TASIKMALAYA – Murah senyum, santun, dan tegas. Itulah ciri khas sosok pegiat sosial Esa Firnanda, S.H., M.Sos. Sekalipun latar belakang pendidikannya di bidang hukum, pria tulen Cigondewah ini lebih menikmati dunia Bimbingan dan Konseling Islam sebagai fashion hidupnya. Puluhan tahun ia menginfakkan energinya untuk memperdalam kajian kesehatan mental berbasis Islam bagi para karyawan di dunia kerja industri di Kota Bandung.
Bimbingan dan Konseling Islam, bagi Esa, merupakan salah satu ilmu yang cukup menarik untuk dipertajam. Bahkan, di dunia kerja, ilmu tersebut sangat dibutuhkan lantaran dapat membantu dalam upaya menetralkan kondisi kesehatan mental para karyawan yang memiliki beban kerja cukup berat dan menjenuhkan.
“Kesehatan mental, terutama yang berbasis nilai-nilai spiritual Islam, sangat membantu ketenangan karyawan dalam bekerja. Aspek ini yang menjadi kajian saya,” ucapnya.
Untuk menggapai impian tersebut, Esa mengaku tidak cukup hanya dengan ucapan. Di sela-sela kesibukannya, ia memaksakan diri untuk ‘bersemedi’ selama dua tahun di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung guna menyalurkan hasrat yang selama puluhan tahun tertimbun aktivitas yang tak pernah usai.
“Saya nekat menekuni program magister Bimbingan dan Konseling Islam di kampus UIN. Tujuannya, ingin ‘mengawinkan’ antara pengetahuan lapangan (praktisi) dengan dunia akademisi,” paparnya.
Bagi Esa, selama ‘bersemedi’ di Gunung Djati tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Berbagai tantangan dan hambatan datang silih berganti. Realitas hidup seperti itu bagi dirinya dianggap sebagai bumbu kehidupan yang patut diterima dengan penuh kesabaran.
“Alhamdulillah, berkat kesabaran dan kerja keras, semuanya teratasi. Berbagai persoalan kini berbuah kebahagiaan karena studi di UIN dapat dirampungkan tepat waktu,” aku pria ini sambil tertawa lebar.
Semangat juang pria asal Cigondewah, Kota Bandung, ini tampaknya tidak sia-sia. Pasalnya, belum lama ini ia berhasil menjalani sidang tesis magisternya dengan nilai sangat memuaskan. Tesis yang berjudul Bimbingan Budaya Kerja dalam Penguatan Kesehatan Mental Karyawan di CV Bintang Mandiri Bandung berhasil mengantarkannya meraih gelar Magister Sosial (M.Sos.) bidang Bimbingan dan Konseling Islam.
Penelitian selama satu tahun ia curahkan dalam tesis setebal 200 halaman. Di hadapan para penguji, Esa selama dua jam mempertahankan hasil risetnya dengan melahirkan model bimbingan budaya kerja berbasis service, harmony, objective, learning, empowerment, dan holistic health, yang kemudian diakronimkan menjadi model SHOLEH.
Model SHOLEH, demikian Esa Firnanda menjelaskan, merupakan jembatan antara teori psikologi konseling kontemporer dengan nilai-nilai etika profetik Islam dalam konteks konseling multikultural dan multireligius yang inklusif.
“Proses bimbingan sejati tidak terbatas di balik dinding ruang konseling tertutup, melainkan hadir di lingkungan tempat manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. Model SHOLEH-lah obat sekaligus panduannya,” pungkasnya. (dd)



















