Kisah Siswa Tak Mau Pulang Saat Libur Ungkap Arti Sekolah Rakyat bagi Keluarga Miskin

Foto: ilustrasi

TASIKMALAYA – Sebuah kisah mengharukan dari program Sekolah Rakyat diungkap Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono. Saat libur sekolah tiba, sejumlah siswa justru memilih tetap tinggal di asrama daripada pulang ke rumah.

Alasannya sederhana namun menyentuh hati, mereka tidak ingin menambah beban ekonomi orang tua.

Bacaan Lainnya

Cerita itu disampaikan Agus Jabo saat menghadiri Talkshow Mahasiswa Bicara bertema “Bangun Persatuan Nasional, Tegakkan Pasal 33” yang digelar Koalisi Bangsa Muda di Jakarta Timur,  (19/6/2026).

Menurut Agus Jabo, dari salah satu Sekolah Rakyat di Jakarta Timur terdapat sembilan siswa yang memutuskan tetap tinggal di asrama selama masa liburan.

Ketika ditanya alasan tidak pulang, salah seorang siswa memberikan jawaban yang membuat suasana haru.

“Dia bilang, ‘Mohon maaf Bu, kalau saya pulang, saya takut membebani bapak ibu saya karena di rumah untuk makan saja susah’,” ungkap Agus Jabo, dikutip dari rmol.id.

Kisah tersebut menjadi gambaran nyata kondisi yang masih dihadapi sebagian keluarga miskin di Indonesia. Bagi mereka, biaya hidup sehari-hari masih menjadi tantangan besar, termasuk untuk menyekolahkan anak hingga jenjang menengah.

Karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat dinilai menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program yang merupakan salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut diperuntukkan bagi masyarakat miskin kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Agus Jabo juga menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Temanggung. Ia bertemu seorang ibu yang sempat putus asa karena tidak mampu menyekolahkan dua anak kembarnya ke tingkat SMA.

BACA JUGA : Detik-Detik Roy Suryo Ditangkap di Rumahnya, Sempat Minta Tunggu Pengacara Datang

Namun, harapan itu kembali muncul setelah kedua anaknya diterima di Sekolah Rakyat.

“Yang tadinya gelap menjadi terang. Yang tadinya tidak punya harapan untuk sekolah, mereka bisa sekolah,” ujarnya.

Tak hanya di Temanggung, kisah serupa juga ditemui di Karanganyar. Seorang siswa Sekolah Rakyat diketahui hidup bersama ayahnya yang sedang sakit dan sehari-hari bergantung pada bantuan tetangga untuk memenuhi kebutuhan makan.

Menurut data Kementerian Sosial, hingga saat ini masih terdapat sekitar 4 juta anak Indonesia yang belum bersekolah atau putus sekolah akibat faktor kemiskinan.

Melalui Sekolah Rakyat, pemerintah berupaya membuka akses pendidikan yang lebih luas sekaligus memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Bagi banyak keluarga, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar. Program ini menjadi jembatan harapan yang selama ini terasa sulit digapai karena keterbatasan ekonomi. (LS)

Pos terkait