“Demi Allah, orang sepertimu, wahai Abu Thalhah, tidak akan ditolak. Namun engkau adalah seorang kafir, sedangkan aku wanita muslimah, dan tidak halal bagiku menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku, dan aku tidak meminta selain itu.”
(HR. An-Nasa’i no. 3341)
Seuntai kalimat penuh kejujuran itu keluar dari lisan Ummu Sulaim, ibu Anas bin Malik, ketika pinangan Abu Thalhah sampai kepadanya. Seorang lelaki yang dalam pandangan manusia nyaris mustahil ditolak. Namun dengan kelembutan iman, ia menyampaikan prinsip yang tegak dalam hatinya.
Dari kisah ini, kita belajar tentang permulaan yang indah. Keimanan yang kokoh membuat Ummu Sulaim memilih Islam sebagai mahar, sebuah password pembuka keberkahan. Inilah fondasi awal pendidikan terbaik, bukan hanya untuk rumah tangga, tetapi juga untuk generasi yang kelak ia lahirkan. Sebuah cinta sebelum bertemu, yang menumbuhkan pribadi-pribadi penanda zaman.
Betapa sempurna konsep cinta dalam Islam. Cinta yang tidak berhenti pada kelekatan fisik atau pertemuan secara lahiriah. Mencintai generasi tidak dimulai saat memilih lembaga pendidikan terbaik, bukan pula ketika anak pandai berbicara, bahkan bukan saat ia terlahir ke dunia. Jauh sebelum itu, cinta telah tumbuh.
BACA JUGA : Ketika Cinta Dijaga, Bukan Dimiliki: Kisah Cinta Suci Ummu Hani’ dan Rasulullah ﷺ
Segenggam cinta itu dipatri bahkan sebelum nama diberikan. Terus bertumbuh, mengajak cinta kembali kepada Pemiliknya. Inilah cinta yang diawali oleh iman, berangkat dari sebuah visi besar keimanan.
Kisah lain tentang cinta sebelum bertemu kita dapati pada Nabi Zakariya ‘alaihissalam. Di usia senja, dengan istri yang belum juga dikaruniai anak, harapan seakan mustahil bertemu kenyataan. Namun beliau memilih berbaik sangka kepada Sang Pencipta, menerjemahkan cinta berbalut iman melalui doa:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sungguh, Engkau Maha Mendengar doa.”
(QS. Ali ‘Imran: 38)
Inilah cinta sebelum bertemu, memberikan pendidikan terbaik bahkan saat pertemuan itu belum tampak mungkin terjadi.
Dalam pendidikan Islam, cinta sebelum bertemu terus tumbuh, tidak berhenti. Ia berlanjut pada salah satu fase terpenting: kehamilan. Fase ketika sentuhan mulai terasa, meski pertemuan belum terjadi. Kita belajar dari teladan wanita mulia penghuni surga, Hannah, ibu Maryam ‘alaihas salam.
Di tengah kelelahan mengandung, ia menjaga cintanya dengan doa dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah:
“(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu apa yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu. Maka terimalah (nazar) itu dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.’”
(QS. Ali ‘Imran: 35)
Dari doa ini, kita belajar menanamkan harapan mulia sejak dalam rahim. Inilah bukti cinta sejati kepada anak: mewujudkannya dalam untaian doa penuh makna, persangkaan baik kepada Sang Pencipta.
Pendidikan itu tidak menunggu pertemuan. Ia telah mengakar kuat sejak awal. Dan ketika pertemuan itu akhirnya terjadi, cinta pun terus bertumbuh, mengawal iman, hingga cinta kembali bertemu dengan Pemilik cinta itu sendiri: Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*/)
Penulis : Rindi Eka Rachmawati












