TASIKMALAYA – Bagi sebagian besar orang, kata “pensiun” sering kali dianggap sebagai titik akhir. Berhenti bekerja, berhenti beraktivitas, dan merasa tidak lagi menjadi bagian penting dalam masyarakat. Banyak yang mengira masa tua hanyalah waktu untuk menunggu cucu atau menunggu ajal tiba.
Namun, benarkah konsep pensiun seperti itu? Jika kita menilik sejarah dan tuntunan Islam, konsep “berhenti produktif” justru tidak dikenal. Rasulullah SAW adalah teladan nyata bahwa usia hanyalah angka, sementara produktivitas adalah nafas kehidupan.
Penelitian modern mendukung prinsip ini. Pakar dari The University of Maryland, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa mereka yang tetap aktif setelah usia pensiun memiliki kesehatan fisik dan psikologi yang lebih stabil.
Senada dengan itu, penelitian di Inggris menemukan kaitan erat antara masa pensiun dengan penyakit pikun (demensia). Hasil studi terhadap 1.702 orang menunjukkan bahwa:
Semakin lama seseorang menunda pensiun (tetap aktif bekerja/berpikir), semakin lambat pula risiko kepikunan datang.
Hal ini dikarenakan otak yang terus aktif akan menjaga sel-sel saraf tetap terhubung. Inilah mengapa dalam Islam, tidak ada istilah pensiun dalam beramal saleh.
BACA JUGA : Keutamaan Bulan Rajab: Momentum Spiritual, Bulan Anugerah dan Persiapan Menuju Ramadhan
Pandangan Al-Qur’an: Beramal Hingga Ajal
Islam memandang bahwa pengabdian kepada Sang Pencipta tidak mengenal batas usia. Ada dua landasan utama dalam Al-Qur’an:
-
QS. Al-Hijr: 99: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” Para mufassir sepakat bahwa selama akal masih sehat, kewajiban ibadah dan berbuat baik tidak pernah gugur.
-
QS. At-Taubah: 105: “Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…'” Ayat ini memotivasi kita untuk terus beraktivitas hingga kita kembali kepada Allah.
Meneladani Produktivitas Rasulullah di Usia Senja
Rasulullah SAW menunjukkan performa luar biasa justru di usia yang menurut standar modern sudah masuk masa pensiun:
1. Usia 53 Tahun: Melakukan Perjalanan Hijrah
Di usia yang kini dianggap Masa Persiapan Pensiun (MPP), Rasulullah melakukan perjalanan heroik menembus padang pasir dari Mekah ke Madinah selama 15 hari di bawah ancaman pembunuhan.
2. Usia 55 Tahun: Memimpin Peperangan (Jihad)
Saat banyak orang mulai membatasi fisik, Rasulullah justru baru memulai perintah jihad. Beliau memimpin strategi, menganalisis kekuatan musuh, dan turun langsung ke lapangan. Tercatat ada 28 peperangan yang beliau ikuti langsung hingga tahun 9 Hijriah.
3. Usia 60 Tahun ke Atas: Diplomasi dan Dakwah Global
Di usia 60 tahun—usia pensiun di banyak negara Barat—beliau masih memimpin ekspedisi besar seperti Fathu Makkah, Hunain, dan Thaif. Beliau membuktikan bahwa ketajaman otak dan keteguhan tekad tidak berkurang dimakan usia.
Bahkan saat sakit menjelang wafatnya, Rasulullah tetap produktif:
-
Tetap Berjamaah: Meski pingsan beberapa kali, beliau tetap berusaha mengimami shalat selama 11 hari di masa sakitnya.
-
Aksi Sosial: Di hari-hari terakhir, beliau membebaskan budak, bersedekah 7 dinar emas, dan menghibahkan senjatanya untuk kaum muslimin.
-
Memberi Edukasi: Beliau terus memberikan nasihat penting (wasiat) kepada para sahabat tentang toleransi, hak masyarakat Anshar, dan kemurnian tauhid.
Kisah hidup Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa produktivitas tidak boleh mati sebelum raga ini dikubur. Pensiun hanyalah peralihan dari satu jenis pekerjaan ke pekerjaan kebaikan lainnya.
Dengan tetap aktif, beribadah dengan khusyuk, dan menjaga pikiran tetap bekerja, kita tidak hanya meraih pahala, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan fisik dari ancaman kepikunan.
Ingin meniru gaya hidup sehat dan produktif ala Rasulullah? Mulailah dengan tidak membatasi diri Anda dengan kata “pensiun”. Selama jantung masih berdetak, selalu ada ruang untuk berkarya. (*/)












