TASIKMALAYA – Setiap manusia, cepat atau lambat, akan berhadapan dengan dialog di sudut hatinya. Dialog yang tak terdengar oleh telinga, tetapi mengguncang batin. Ia hadir dalam bentuk pertanyaan tentang halal dan haram, benar dan salah, iman dan kufur. Dalam perjalanan hidup, dialog hati inilah yang sering kali menjadi penentu arah: menuju cahaya atau justru menjauh darinya.
Sejarah Islam mencatat banyak kisah tentang pergulatan batin semacam ini. Dua di antaranya adalah Umar bin Khattab dan Al-Walid bin Mughirah. Keduanya sama-sama mendengar Al-Qur’an, sama-sama tergetar, namun berakhir di jalan yang sangat berbeda.
Ketika Al-Qur’an Mengetuk Hati Umar
Sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok keras dan tegas dalam memusuhi dakwah Rasulullah ﷺ. Bahkan di kalangan Quraisy beredar ungkapan sinis, “Umar tidak akan masuk Islam sampai ontanya Al-Khattab masuk ke lubang jarum”—sebuah metafora tentang kemustahilan.
Namun sejarah berkata lain.
Dalam sebuah riwayat yang disampaikan Imam Ahmad bin Hanbal, Umar bercerita bagaimana suatu hari ia diam-diam mengikuti Rasulullah ﷺ ke Masjidil Haram. Ia berdiri di belakang Nabi dan mendengarkan bacaan Surah Al-Haqqah. Umar terpesona. Dalam benaknya terlintas, “Ini pasti syair.” Seketika ayat dibacakan:
“Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman.”
Umar kembali bergolak. “Kalau begitu ini ucapan dukun.” Lalu turun ayat berikutnya:
“Dan bukan pula perkataan tukang tenung… Ia adalah wahyu dari Tuhan semesta alam.”
Di titik itu, Umar mengakui, Islam mulai jatuh di hatinya—pelan tapi pasti.
BACA JUGA : Urutan Pendidikan Menentukan Masa Depan Generasi, Belajar dari Tiga Fase Kehidupan Rasulullah SAW
Pergulatan batin itu mencapai puncaknya saat Umar mendatangi rumah adiknya, Fatimah, dan membaca langsung lembaran Surah Thaha ayat 1–8. Kalimat “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu untuk menyusahkanmu” seolah meluruhkan seluruh kemarahan dan kesombongan yang selama ini bersarang di dadanya. Cahaya itu disambut, dirawat, lalu tumbuh menjadi iman yang kokoh.
Al-Walid bin Mughirah: Kagum, Namun Mundur
Berbeda dengan Umar, Al-Walid bin Mughirah justru dikenal sebagai tokoh terpandang Quraisy. Ia kaya, berpengaruh, dan secara moral dipandang “baik” oleh masyarakatnya. Ia mengharamkan khamr untuk dirinya, menolak harta haram dalam pembangunan Ka’bah, dan dikenal bijak dalam forum Darun Nadwah.
Ia pun mengakui keagungan Al-Qur’an.
Kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Al-Walid pernah berkata, “Apa yang disampaikan Muhammad bukanlah syair, bukan sihir, dan bukan ocehan orang gila. Itu benar-benar firman Allah.”
Namun pengakuan itu justru mengguncang elite Quraisy. Tekanan sosial dan politik pun datang, terutama dari Abu Jahal. Al-Walid diminta menentukan sikap. Ia meminta waktu untuk berpikir.
Akhirnya, ia memilih jalan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa Al-Qur’an hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang terdahulu. Cahaya yang sempat menyentuh hatinya dipadamkan—bukan karena ia tidak tahu kebenaran, tetapi karena ia enggan menanggung konsekuensi sosial dari kebenaran itu.
Dialog Hati: Penentu Akhir Perjalanan
Umar dan Al-Walid sama-sama mengalami dialog batin yang dahsyat. Yang membedakan bukanlah tingkat pengetahuan, status sosial, atau moralitas lahiriah, melainkan keberanian mengikuti suara hati yang jujur.
Rasulullah ﷺ telah memberi panduan jelas tentang dialog hati ini. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Nabi bersabda:
“Mintalah fatwa pada hatimu. Kebajikan adalah apa yang menenangkan jiwa, sedangkan dosa adalah apa yang membuat hati gelisah meskipun orang-orang memberimu fatwa.”
Dalam hadits lain, Nabi ﷺ menegaskan:
“Tinggalkan apa yang meragukanmu, dan peganglah apa yang tidak meragukanmu.”
Hati yang jujur—jika tidak tertutup oleh kepentingan, gengsi, dan tekanan—sejatinya mampu membedakan cahaya dan gelap. Namun seperti kisah Al-Walid, hati juga bisa memilih untuk membungkam kebenaran yang telah diketahuinya.
Menjaga Kepekaan Hati
Dialog hati adalah anugerah sekaligus ujian. Ia bisa menjadi jalan menuju hidayah, atau justru saksi atas penolakan kita terhadap kebenaran. Karena itu, tugas manusia bukan sekadar mendengar suara hati, tetapi menjaganya agar tetap jernih dan berani mengikuti kebenaran.
Semoga Allah menuntun dialog hati kita agar selalu condong pada kebaikan, menenangkan jiwa, dan mengantarkan kita pada cahaya iman yang tidak padam. Aamiin. (*/)
Sumber : Disadur dari Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum












