TASIKMALAYA – Film serial bertema sejarah Sunda berjudul Patrakusumah menarik perhatian kalangan kampus di Kota Bandung. Film yang tayang melalui platform YouTube ini bahkan menjadi bahan diskusi di lingkungan akademik.
Film tersebut disutradarai oleh Raden Rohidin, SH, MH, M.Si, dan mengangkat kisah kepemimpinan Raden Patrakusumah dalam mengelola pemerintahan, politik, serta strategi perang pada masanya.
Serial ini mengisahkan keberhasilan Patrakusumah dalam menata pemerintahan Kesultanan Tatar Sunda Selacau, Tasikmalaya, pada periode 1522–1589. Fokus utama cerita menyoroti kepemimpinannya dalam mewujudkan keadilan dan kemakmuran masyarakat.
BACA JUGA : Mudik Lebaran 2026 Lebih Tenang, Polres Tasikmalaya Sediakan Penitipan Motor dan Mobil Gratis
Muhammad Fikri, mahasiswa Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengaku tertarik dengan film tersebut. Ia menilai alur cerita disajikan dengan baik dan memiliki nilai historis yang layak dikaji.
“Sebagai mahasiswa sejarah, saya tertantang untuk meneliti lebih jauh tentang Patrakusumah. Ini menjadi bahan diskusi kami di kampus,” ujarnya.
Menurut Fikri, film tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga bahan analisis, khususnya terkait perjuangan Patrakusumah dalam konteks peradaban Islam di Tatar Sunda. Ia mengaku masih mengikuti setiap episode, terutama saat mengisi waktu ngabuburit di bulan Ramadan.
Sementara itu, pakar Ilmu Dakwah, Acep Aripudin, menilai film ini menarik untuk dikaji dari perspektif dakwah. Ia menyoroti nilai-nilai kepemimpinan yang dikemas dalam pendekatan keagamaan.
“Ini relevan untuk dikaji dalam konteks dakwah keadilan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Respons positif juga datang dari warganet. Salah satu pengguna, @toopchannie, menyebut film tersebut membanggakan bagi masyarakat Sunda. “Aya kumerenan ieu mah cariosna, raoseun pisan ditonton,” tulisnya.
Komentar lain disampaikan akun @DenjayaYaya yang menilai film tersebut menarik. “Top markotop. Mantap kang sutradara, lanjutkan,” tulisnya.
Sutradara Raden Rohidin mengakui respons publik terhadap film tersebut cukup besar. Ia menyebutkan, pihaknya menargetkan produksi hingga 300 episode, sementara saat ini baru mencapai 14 episode.
“Respons positif ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan mengangkat sejarah Tatar Sunda,” ujarnya.
Film Patrakusumah dapat disaksikan melalui platform YouTube sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah dan budaya Sunda. (DD)












