TASIKMALAYA – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bandung sekaligus pengusaha muda nasional, Boni Anggara, membagikan kisah sukses dan strategi bisnisnya di hadapan ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Tasikmalaya.
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk talkshow motivasi ini bertujuan untuk mendorong pelaku usaha lokal agar mampu naik kelas dan mendobrak pasar digital.
Boni Anggara, yang merupakan mantan vokalis band, kini sukses bertransformasi menjadi miliarder di usia muda.
Di bawah manajemennya, ia mengelola beberapa sektor bisnis mulai dari Event Organizer (EO), Food & Beverage (F&B), hingga produk camilan massal dengan total 1.200 karyawan dan akumulasi omset mencapai Rp300 miliar per tahun.
Acara tersebut diselenggarakan di Kafe Jalan Yudaagara, Kota Tasikmalaya, pada Rabu (3/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Boni menekankan pentingnya perubahan pola pikir (mindset) bagi para pelaku UMKM yang sering kali terjebak hanya pada proses produksi tanpa memikirkan strategi pemasaran yang matang.
“Kadang-kadang ini dilupakan oleh bapak-bapak, ibu-ibu UMKM; cuma fokus hanya bagaimana menciptakan produk, setelah itu bikin produk jualan asal-asalan, packaging-nya asal-asalan. Padahal sebuah nama adalah sebuah arti yang besar untuk bapak-ibu ciptakan,” ujar Boni di hadapan peserta.
Untuk mencapai omset miliaran, Boni menjabarkan beberapa formula taktis yang telah ia terapkan sejak tahun 2010. Pertama, UMKM harus kuat dalam personal branding. Pemilik usaha (owner) harus berani mempromosikan dirinya sendiri sebagai representasi produk guna membangun kedekatan dan kepercayaan konsumen di media sosial seperti Instagram dan TikTok.
“Hari ini untuk viral, gak usah ganteng, gak usah cantik, gak usah kaya, gak usah keren. Siapapun bisa jadi artis di hari ini. Di Instagram, di TikTok, kita harus jadikan itu menjadi hasil yang luar biasa,” tegasnya.
Kedua, Boni menyarankan penerapan strategi pemasaran psikologis, salah satunya melalui skema bundling product (penjualan paket).
Strategi ini diadopsi dari manajemen merek-merek besar dunia untuk mengarahkan konsumen membeli produk dalam jumlah lebih banyak secara sukarela, yang secara otomatis akan melipatgandakan omset harian.
BACA JUGA : Diky Candra Turun Tangan, Pemkot Tasikmalaya Tindak Lanjuti Dugaan Tambang Ilegal
Melalui rekam jejaknya yang merangkak dari bawah, Boni optimistis UMKM Tasikmalaya memiliki potensi besar untuk berkembang pesat jika konsisten menerapkan digitalisasi.
“Saya lahir di gang seribu hutan yang bisa menghasilkan omset miliaran rupiah di usia 27 tahun. Ibu-bapak pasti bisa,” pungkasnya memotivasi.
Boni membagikan tiga strategi kunci yang wajib dimiliki UMKM agar bisa naik kelas:
1. Evaluasi dan Kekuatan Brand: Pelaku usaha tidak boleh hanya fokus pada produksi, tetapi juga harus memikirkan nama produk yang memiliki nilai jual dan arti yang besar.
2. Pentingnya Personal Branding: Menurutnya, di era digital ini, pemilik usaha (owner) harus berani tampil di depan sebagai wajah dari produknya sendiri untuk membangun kepercayaan konsumen.
3. Strategi Pemasaran Kreatif (Bundling Product): Mengadopsi sistem hypnoselling seperti brand besar, di mana konsumen diarahkan untuk membeli paket produk yang secara tidak langsung melipatgandakan omset penjualan. (*)



















