TASIKMALAYA – Di tengah derasnya arus zaman modern, banyak manusia merasa lelah secara batin. Informasi datang tanpa henti, nilai kebenaran sering kabur, dan godaan hadir semakin dekat. Dalam kondisi seperti ini, peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ kembali relevan untuk direnungkan, bukan sekadar sebagai sejarah, tetapi sebagai penguat iman dan penunjuk arah hidup.
Isra Mi’raj, Hadiah di Tengah Masa Paling Sulit
Isra Mi’raj terjadi pada fase paling berat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Beliau baru saja kehilangan orang-orang tercinta, menghadapi tekanan dakwah, serta penolakan dari masyarakat. Namun justru dari titik terendah itu, Allah mengangkat Nabi Muhammad ﷺ dalam perjalanan spiritual yang luar biasa.
Pesan besarnya jelas: kesulitan bukan tanda Allah meninggalkan hamba-Nya, melainkan jalan menuju kedekatan yang lebih tinggi kepada-Nya. Sebuah pelajaran penting bagi umat Islam yang hari ini kerap merasa goyah saat diuji masalah hidup.
Shalat Lima Waktu, Pilar Iman Sepanjang Zaman
Salah satu hikmah terbesar Isra Mi’raj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu. Ibadah ini bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi kebutuhan ruhani. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup modern, shalat menjadi ruang jeda untuk menenangkan hati, meluruskan niat, dan menguatkan hubungan dengan Allah.
BACA JUGA : Ketika Cinta Dijaga, Bukan Dimiliki: Kisah Cinta Suci Ummu Hani’ dan Rasulullah ﷺ
Tidak berlebihan jika dikatakan, siapa yang menjaga shalatnya akan dijaga imannya. Sebaliknya, ketika shalat mulai ditinggalkan, pelan-pelan manusia kehilangan arah dan ketenangan hidup.
Ujian Iman di Era Digital
Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa iman tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika semata. Ia menuntut keyakinan dan ketundukan. Saat peristiwa ini diceritakan, banyak yang meragukan, namun para sahabat yang kokoh imannya justru semakin yakin.
Fenomena serupa terjadi hari ini. Di era digital, iman sering diuji oleh popularitas, validasi sosial, dan opini yang viral. Bukan kurangnya bukti yang membuat manusia ragu, melainkan jauhnya hati dari Allah.
Mi’raj Sejati: Dekat dengan Allah, Peduli pada Sesama
Perjalanan Mi’raj bukan ajakan untuk menjauh dari realitas. Setelah kembali, Rasulullah ﷺ tetap menjalani kehidupan sosial, berdakwah, dan menegakkan akhlak mulia. Ini menegaskan bahwa kedekatan dengan Allah harus tercermin dalam perilaku sehari-hari: jujur, adil, peduli, dan penuh empati.
Mi’raj sejati bukan hanya naik secara spiritual, tetapi juga kembali ke bumi dengan akhlak yang lebih baik.
Refleksi untuk Umat Islam Hari Ini
Momentum peringatan Isra Mi’raj seharusnya menjadi ajakan bersama untuk:
-
Memperbaiki kualitas salat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban
-
Menguatkan iman di tengah godaan zaman
-
Mendekatkan diri kepada Allah tanpa meninggalkan kepedulian sosial
Di tengah dunia yang semakin bising, Isra Mi’raj mengingatkan bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya yang ingin mendekat.
Peristiwa agung ini bukan hanya untuk dikenang setahun sekali, tetapi untuk dihidupkan maknanya setiap hari, agar iman tetap kokoh, hati tetap tenang, dan hidup tetap berada di jalan yang diridhai-Nya. (*/)












