Khazanah

Akar Rumput dalam Sejarah Islam: Ketika Kaum Lemah Menjadi Kekuatan Perubahan

×

Akar Rumput dalam Sejarah Islam: Ketika Kaum Lemah Menjadi Kekuatan Perubahan

Sebarkan artikel ini
Foto: ilustrasi

TASIKMALAYA – Istilah akar rumput kerap digunakan untuk menggambarkan masyarakat kecil yang nyaris tak terlihat. Jika rumput saja sering terinjak dan diabaikan, maka akarnya lebih tak kasatmata. Mereka adalah kelompok yang jarang diperhitungkan, kecuali ketika dibutuhkan—terutama saat pemilu dan pilkada—sekadar sebagai angka suara.

Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan realitas yang serius. Pada September 2011, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 29,89 juta jiwa atau 12,36 persen. Sementara kelompok rentan miskin—yang memiliki peluang besar jatuh ke jurang kemiskinan—berjumlah 27,82 juta jiwa atau 11,5 persen, dengan garis kemiskinan Rp243.729 per bulan. Angka ini mencerminkan besarnya kelompok akar rumput yang hak-haknya kerap terpinggirkan.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa perubahan besar justru lahir dari mereka yang dianggap lemah. Pada masa awal dakwah Rasulullah Muhammad ﷺ, mayoritas pengikut beliau berasal dari kalangan dhuafa dan budak. Nama-nama seperti Bilal bin Rabah, Suhaib Ar-Rumi, Khabab bin Al-Arat, Ammar bin Yasir, Yasir, dan Sumayyah radhiyallahu ‘anhum adalah bukti nyata.

Fakta ini bahkan diakui oleh musuh Islam sendiri. Dalam dialog terkenal antara Kaisar Romawi Heraklius dan Abu Sufyan—yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari—ketika Heraklius bertanya siapa yang mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, Abu Sufyan menjawab jujur, “Yang mengikutinya adalah orang-orang lemah.” Heraklius pun menegaskan, “Mereka memang pengikut para rasul.”

Ini menjadi ciri penting dakwah kenabian: akar kekuatannya justru tumbuh dari kalangan yang tertindas.

Mengangkat Martabat yang Terpinggirkan

Tidak sulit bagi seorang pemimpin mengumpulkan pengikut dari kalangan elit dan terpandang. Namun, keistimewaan Rasulullah ﷺ terletak pada kemampuannya mengangkat martabat mereka yang sebelumnya tak dianggap.

Bilal bin Rabah adalah contoh paling nyata. Seorang budak berkulit hitam yang dalam masyarakat jahiliyah diperlakukan layaknya barang. Ia boleh disiksa, direndahkan, bahkan tidak berhak menentukan hidupnya sendiri. Namun Islam mengubah segalanya. Di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ, Bilal dimuliakan, duduk sejajar dengan para sahabat utama, dan dipilih Allah untuk mengumandangkan adzan.

BACA JUGA : Dialog Hati: Antara Cahaya yang Disambut dan Cahaya yang Dipadamkan

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menebus Bilal dari tuannya, Umayyah bin Khalaf, dengan sembilan uqiyah emas, Umayyah berkata sinis, “Seandainya engkau menawar satu uqiyah pun, aku tetap akan menjualnya.” Abu Bakar menjawab tegas, “Seandainya engkau memintanya seratus uqiyah, aku pun akan tetap membelinya.”

Inilah wajah ukhuwah Islamiyah—persaudaraan yang dibangun atas dasar iman, bukan status sosial.

Kedekatan Rasulullah ﷺ dengan kaum dhuafa bahkan memicu penolakan dari para elit Quraisy. Mereka meminta Nabi agar menjauhkan diri dari para sahabat miskin demi menarik simpati kaum bangsawan. Namun Allah langsung menurunkan firman-Nya:

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”
(QS. Al-An‘am: 51–52)

Ayat ini menjadi pembelaan tegas Allah kepada masyarakat akar rumput, sekaligus peringatan agar kekuasaan dan dakwah tidak tunduk pada logika elitisme.

Akar Rumput dan Tanggung Jawab Kepemimpinan

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa harta terbaik seorang muslim adalah yang disedekahkan kepada orang miskin, anak yatim, dan ibnu sabil (HR. Muslim). Sejarah membuktikan, Islam berkembang ke seluruh penjuru dunia justru melalui tangan orang-orang kecil ini.

Karena itu, sudah seharusnya para pemimpin hari ini meneladani Rasulullah ﷺ. Bukan sekadar menjadikan masyarakat akar rumput sebagai objek politik, tetapi benar-benar memperjuangkan hak dan martabat mereka.

Agar tidak ada lagi anak-anak yang mempertaruhkan nyawa demi sekolah dengan meniti jembatan gantung seadanya.
Agar tak ada lagi siswa yang terpaksa libur karena sungai meluap tanpa akses penyeberangan.
Agar tak ada lagi orang miskin yang pergi ke dukun karena rumitnya administrasi rumah sakit dan mahalnya biaya pengobatan.

Jika kemiskinan dan keterbatasan akhirnya menyeret seseorang pada praktik kemusyrikan karena keputusasaan, maka pertanyaannya: atas tanggung jawab siapa semua itu terjadi?

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bahwa ia takut dimintai pertanggungjawaban di akhirat hanya karena seekor hewan terperosok akibat jalan yang rusak. Sebuah pelajaran besar bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari keberpihakan kepada akar rumput. (*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *