TASIKMALAYA – Jika sebuah kurikulum pendidikan disusun oleh para ahli terbaik, dikaji lintas disiplin ilmu, dan dirancang melalui riset panjang, tentu kita sepakat kurikulum itu luar biasa.
Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apa jadinya jika kurikulum sekelas itu disampaikan dengan urutan yang keliru?
Bayangkan pelajaran kelas 6 SD diajarkan kepada anak kelas 1. Materi berat diberikan sebelum fondasi terbentuk. Alih-alih melahirkan generasi unggul, yang muncul justru generasi rapuh, mudah lelah, dan kehilangan arah.
Masalahnya bukan pada isi, melainkan pada urutan.
Fenomena ini kerap terjadi dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pendidikan Islam. Padahal Islam bukan hanya agama yang sempurna dalam ajaran, tetapi juga sangat rapi dalam metodologi dan tahapan pembinaan manusia.
Contoh paling ideal dari sistem pendidikan tersebut adalah kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam.
Urutan Pendidikan Bukan Sekadar Teknis, Tapi Penentu Hasil
Kesalahan urutan dalam pendidikan melahirkan banyak paradoks. Di antaranya:
-
Fikih hudud diajarkan sejak usia dini
-
Aturan dan hukuman ditekankan, sementara aqidah belum kokoh
-
Hafalan Al-Qur’an baru dimulai ketika usia senja
Akibatnya, pendidikan tidak melahirkan kesadaran, melainkan keterpaksaan. Yang muncul bukan kecintaan, tetapi kejenuhan.
Islam sejak awal menekankan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati, bukan dari tekanan.
BACA JUGA : Rasulullah Tak Pernah Pensiun: Rahasia Tetap Produktif dan Sehat di Usia Tua
Kehidupan Rasulullah SAW: Kurikulum Peradaban
Seluruh perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW bukan sekadar sejarah, melainkan metode pendidikan manusia dan peradaban.
Jika ditelaah secara garis besar, kehidupan Rasulullah SAW terbagi dalam tiga fase utama:
-
0–40 tahun: Fase Persiapan
-
40–53 tahun: Fase Makkiyyah
-
53–63 tahun: Fase Madaniyyah
Menariknya, ketiga fase ini berjalan tanpa loncatan, penuh tahapan, dan sarat hikmah.
Fase Pertama (0–40 Tahun): Persiapan Total Seorang Pemimpin
Pertanyaan klasik sering muncul: Mengapa Rasulullah SAW baru diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun?
Jawabannya sederhana namun mendalam: misi besar membutuhkan persiapan besar.
Menjadi Rasul bukan peran biasa. Ia adalah puncak kepemimpinan manusia—di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.”
(QS. Al-An’am: 124)
Selama 40 tahun, Rasulullah SAW ditempa di tengah masyarakat jahiliyah yang sarat kemusyrikan dan kerusakan moral. Namun beliau tumbuh dengan kejujuran, amanah, dan akhlak yang mulia.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menegaskan bahwa Allah memilih Rasulullah SAW dan para sahabatnya karena kebersihan hati mereka.
Fakta penting yang sering luput disadari, 40 tahun persiapan, hanya 23 tahun menjalankan misi kenabian. Islam menekankan kematangan sebelum amanah.
Fase Makkiyyah (40–53 Tahun): Membangun Manusia Sebelum Sistem
Selama 13 tahun di Makkah, Rasulullah SAW belum membangun negara, belum menegakkan hukum formal, dan belum memiliki kekuatan politik.
Fokus utama fase Makkiyyah adalah:
-
Tauhid
-
Keimanan kepada akhirat
-
Kesabaran
-
Keteguhan hati
-
Akhlak dan keberanian moral
Ayat-ayat yang turun berbicara tentang surga, neraka, hari pembalasan, dan nilai benar-salah. Islam membangun kesadaran sebelum ketaatan.
Dari fase ini lahir manusia-manusia luar biasa seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Bilal bin Rabah, dan Mush’ab bin Umair. Mereka taat bukan karena takut hukuman, tetapi karena iman telah mengakar kuat.
Pelajaran penting dari fase Makkiyyah:
-
Jangan menuntut ketaatan jika aqidah rapuh
-
Jangan berbicara sistem tanpa membangun manusia
-
Jangan tergesa mengejar hasil tanpa proses
BACA JUGA : Wanita Bukan Manusia? Sejarah Kelam Eropa dan Jawaban Tegas Islam
Fase Madaniyyah (53–63 Tahun): Sistem Ditegakkan Setelah Manusia Siap
Hijrah ke Madinah menandai perpindahan fase, bukan pelarian. Di Madinah, Islam hadir sebagai sistem kehidupan yang utuh.
Barulah turun:
-
Hukum fikih
-
Aturan muamalah
-
Sistem sosial dan kenegaraan
-
Hukum pidana dan jihad
Semua itu ditegakkan karena manusianya telah siap.
Rasulullah SAW mempersatukan Muhajirin dan Anshar, menyusun Piagam Madinah, serta menjamin hak non-Muslim. Negara dibangun di atas iman dan akhlak, bukan paksaan.
Urutan yang Tidak Pernah Terbalik
Urutan pendidikan Rasulullah SAW sangat jelas:
-
Membangun pribadi
-
Menanamkan iman dan akhlak
-
Menegakkan sistem dan hukum
Tidak ada jalan pintas. Tidak ada loncatan instan.
Ketika urutan ini dibalik—hukum ditegakkan tanpa kesadaran, aturan dipaksakan tanpa iman—Islam justru tampak keras dan menjauhkan generasi.
Masalahnya bukan pada Islam, tetapi pada kesalahan metodologi pendidikan.
Urutan Adalah Sunnatullah
Rasulullah SAW tidak hanya membawa wahyu, tetapi juga metode membangun manusia dan peradaban.
Jika ingin generasi kuat, bangun aqidah terlebih dahulu.
Jika ingin masyarakat taat, tumbuhkan kesadaran sebelum aturan.
Jika ingin negara adil, siapkan manusianya lebih dulu.
Islam selalu mendahulukan manusia sebelum sistem. Di situlah letak keindahan, kearifan, dan kesempurnaan kurikulum kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. (*/)
Sumber : Disadur dari Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum












