Khazanah

Wanita Bukan Manusia? Sejarah Kelam Eropa dan Jawaban Tegas Islam

×

Wanita Bukan Manusia? Sejarah Kelam Eropa dan Jawaban Tegas Islam

Sebarkan artikel ini
Foto: ilustrasi

TASIKMALAYA – Benarkah wanita pernah dianggap bukan manusia? Pertanyaan ini terdengar absurd, namun faktanya pernah menjadi perdebatan serius di Eropa pada abad ke-16 hingga ke-17. Sejarah mencatat adanya risalah kontroversial yang secara ekstrem menyimpulkan bahwa wanita bukanlah manusia. Perdebatan ini meninggalkan luka panjang dan menjadi salah satu akar lahirnya gerakan feminisme modern.

Lantas, bagaimana Islam memandang wanita? Jawabannya sangat tegas dan jauh melampaui zamannya.

Risalah Kontroversial: Saat Wanita Diperdebatkan sebagai “Bukan Manusia”

Pada tahun 1595, sebuah risalah anonim berjudul Disputatio nova contra mulieres, qua probatur eas Homines non esse beredar di Eropa. Isinya mengejutkan: dengan sekitar 50 argumentasi rasional dan teologis, risalah ini menyimpulkan bahwa wanita bukan manusia.

Implikasinya sangat serius. Jika wanita bukan manusia, maka mereka tidak termasuk dalam penebusan Yesus Kristus. Akibatnya, Eropa pun memanas. Perdebatan sengit berlangsung selama puluhan tahun di kalangan teolog, filsuf, dan akademisi.

Nama Valens Acidalius (1567–1595), seorang humanis muda Jerman, sempat dituduh sebagai penulisnya. Meski ia membantah keras, kontroversi ini terus bergulir bahkan setelah ia wafat. Fakta ini menjadi gambaran nyata sejarah kelam perlakuan terhadap wanita di Barat.

BACA JUGA : Asuransi Terbaik untuk Anak Bukan Sekadar Harta, tapi Keberkahan Orang Tua

Berbeda jauh dengan polemik tersebut, Islam sejak abad ke-7 sudah menegaskan status kemanusiaan wanita tanpa perdebatan. Al-Qur’an menyatakan:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh manusia—laki-laki maupun perempuan—berasal dari satu hakikat penciptaan. Tidak ada hierarki kemanusiaan berdasarkan jenis kelamin. Ukuran kemuliaan hanyalah ketakwaan, bukan gender.

Dengan kata lain, dalam Islam, wanita adalah manusia seutuhnya, baik secara spiritual, moral, maupun sosial.

Wanita dalam Sejarah Jahiliyah: Dari Aib Menuju Kemuliaan

Sebelum Islam datang, wanita memang mengalami perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Al-Qur’an menggambarkan kondisi masyarakat jahiliyah yang merasa hina ketika dikaruniai anak perempuan, bahkan sampai mengubur bayi perempuan hidup-hidup.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah wajahnya dan dia sangat marah…”
(QS. An-Nahl: 58–59)

Islam datang untuk menghancurkan cara berpikir rusak ini dan menegaskan bahwa kelahiran anak—baik laki-laki maupun perempuan—adalah ketetapan Allah:

“Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Asy-Syura: 49)

Rasulullah ﷺ bahkan mengangkat derajat anak perempuan yang sebelumnya dianggap aib:

“Barang siapa diberi cobaan dengan anak-anak perempuan lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah revolusi sosial besar yang mengubah wajah peradaban Arab—dan dunia.

Islam tidak hanya menghapus diskriminasi, tetapi juga menegaskan kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan:

“Dan orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain…”
(QS. At-Taubah: 71)

Ayat ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab, peran, dan peluang pahala yang sama di sisi Allah.

Sejarah Islam mencatat banyak sosok wanita mulia yang berperan aktif dalam peradaban, di antaranya:

  • Khadijah r.a., pengusaha sukses dan orang pertama yang beriman.

  • Aisyah r.a., ulama besar dan perawi lebih dari 2.200 hadits.

  • Nusaibah binti Ka’ab, pejuang yang melindungi Rasulullah di medan Uhud.

  • Khaulah binti Azwar, ksatria muslimah di medan perang.

  • Fatimah r.a., putri Rasulullah yang menjadi teladan keteguhan iman.

Fakta-fakta ini membuktikan bahwa Islam memuliakan wanita tanpa harus menghilangkan kodratnya.

Ketika Eropa masih berdebat apakah wanita manusia atau bukan, Islam telah menyelesaikan persoalan ini berabad-abad sebelumnya. Wanita adalah manusia, hamba Allah, dan pemilik kehormatan yang sama di hadapan-Nya.

Islam tidak merendahkan wanita, tetapi menempatkannya sesuai kodrat dan martabatnya. Karena pada akhirnya, yang membedakan manusia bukan jenis kelaminnya, melainkan ketakwaannya. (*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *