Khazanah

Peran Perempuan dalam Peradaban: Dari Rahim Ibu Lahir Generasi Emas Umat

×

Peran Perempuan dalam Peradaban: Dari Rahim Ibu Lahir Generasi Emas Umat

Sebarkan artikel ini
Foto: dok Ilustrasi

TASIKMALAYA – Perempuan memiliki peran yang sangat menentukan dalam membangun peradaban. Bukan hanya melalui kiprah dan prestasi pribadi, tetapi juga lewat perannya sebagai pendidik generasi. Dari tangannya, karakter bangsa dibentuk. Dari rahimnya, lahir generasi pemimpin umat.

Sejarah Islam telah membuktikan bahwa kemajuan peradaban tidak pernah lepas dari peran perempuan. Sebut saja Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Sayyidah Nafisah, hingga Rabi’ah Al-Adawiyyah. Mereka dikenal bukan hanya karena keimanan dan keilmuannya, tetapi juga karena pengaruh besar yang mereka tinggalkan bagi umat.

Selain itu, banyak perempuan mulia yang dikenang karena jasanya dalam mendidik generasi terbaik. Sarah, ibu Nabi Ishaq; Hajar, ibu Nabi Ismail; Asiyah yang mengasuh Nabi Musa; Maryam, ibu Nabi Isa; hingga Fatimah binti Muhammad yang mendidik Hasan dan Husain.

Dua peran ini yakni prestasi dan keibuan, sama-sama mulia dan berkontribusi besar dalam perjalanan peradaban Islam.

Perempuan adalah benteng karakter bangsa. Keteguhan iman dan akhlaknya menjadi pelindung dari kebodohan, kerusakan moral, dan krisis mental. Dari kelembutan nasihatnya, perempuan mampu menenangkan jiwa dan menguatkan langkah.

Bahkan Rasulullah Muhammad SAW pernah merasakan ketenangan luar biasa dari sosok perempuan mulia, Khadijah binti Khuwailid, saat beliau menerima wahyu pertama.

BACA JUGA : Bukan Sekadar Mendidik, Orang Tua Bertugas Menumbuhkan Iman yang Sudah Allah Tanam

Dengan keyakinan penuh, Khadijah berkata bahwa Allah tidak akan menghinakan Rasulullah, karena beliau adalah sosok yang menjaga silaturahmi, menolong orang lemah, memuliakan tamu, dan menegakkan kebenaran. Dari sanalah dakwah Islam dimulai, dan sejarah mencatat bahwa peran perempuan ada di barisan terdepan sejak awal.

Allah SWT juga menegaskan pentingnya karakter perempuan beriman melalui peristiwa baiat perempuan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 12. Baiat ini menjadi fondasi moral dan spiritual dalam membangun masyarakat yang kokoh dan beradab.

Membangun perempuan berarti membangun peradaban. Ketika akidah dan akhlak perempuan terjaga, maka generasi yang lahir darinya akan tumbuh kuat menghadapi tantangan zaman. Sebaliknya, rusaknya moral perempuan akan berdampak panjang pada kehancuran sosial dan peradaban.

Meski wanita memiliki peluang besar meraih surga dengan iman dan amal saleh, Rasulullah SAW mengingatkan adanya ancaman bagi mereka yang mengabaikan aturan Allah. Peringatan ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk mengangkat derajat perempuan agar kembali pada kemuliaannya.

Cukuplah Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup. Perempuan tidak perlu dibebani kebebasan semu yang justru merusak fitrahnya. Dengan iman, akhlak, dan rasa malu yang terjaga, perempuan akan melahirkan generasi rabbani—pemimpin masa depan yang berintegritas dan berdaya saing.

Peradaban besar tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari rumah-rumah yang dipenuhi iman. Dan di sanalah, perempuan memegang peran kunci. (*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *