TASIKMALAYA – Pernahkah Anda merasa lelah yang luar biasa meskipun pekerjaan tidak seberapa? Atau merasa hampa di tengah gelimang harta dan keramaian? Banyak orang mencari ketenangan lewat liburan, hobi, atau hiburan duniawi, namun rasa sesak di dada tak kunjung hilang.
Dalam Islam, ketenangan jiwa bukanlah tentang apa yang kita miliki, melainkan sejauh mana koneksi kita dengan Sang Pencipta. Shalat adalah napas kehidupan. Ia bukan sekadar kewajiban lima waktu, melainkan sumber cahaya yang menghidupkan iman dan menenteramkan jiwa.
Shalat: Tiang yang Menentukan Nasib Amal Lain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan yang sangat tegas mengenai posisi shalat dalam agama:
“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Tanpa tiang yang kokoh, bangunan iman dalam diri seseorang akan mudah roboh diterjang badai ujian kehidupan. Menariknya, salat juga menjadi “filter” pertama di akhirat kelak. Jika shalat seseorang baik, maka seluruh amal lainnya akan dianggap baik. Sebaliknya, jika salatnya rusak, maka ia termasuk orang yang merugi.
Mencari Ketenangan di Atas Sajadah
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang melelahkan, shalat hadir sebagai momen istirahat. Rasulullah SAW dahulu sering berkata kepada Bilal bin Rabah ra:
“Wahai Bilal, tegakkanlah shalat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)
Bagi seorang mukmin, shalat bukanlah beban yang menyita waktu, melainkan sarana untuk “curhat” langsung kepada Allah. Di saat sujud, kita melepaskan semua ego dan beban dunia di posisi terendah, namun di saat itulah kita berada pada posisi paling dekat dengan Allah Rabbul ‘Alamin.
Rahasia Keberkahan dan Pembuka Pintu Rezeki
Banyak yang khawatir meninggalkan pekerjaan sejenak untuk shalat akan menghambat rezeki. Padahal, Allah SWT justru menjamin rezeki bagi mereka yang menjaga salat:
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)
Shalat yang dilakukan dengan benar juga berfungsi sebagai benteng spiritual. Ia mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, serta memperbaiki akhlak secara perlahan namun pasti.
BACA JUGA : Jangan Tunggu Esok: Menjemput Hidayah Melalui Perbaikan Diri dan Ibadah
Zaman modern menawarkan banyak kemudahan, namun seringkali membuat kita lupa pada hakikat penciptaan. Alasan “nanti saja” atau “sedang sibuk” seringkali menjadi jebakan. Allah mengingatkan dengan keras dalam QS. Al-Ma‘un ayat 4-5:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya.”
Lalai di sini bisa berarti menunda-nunda waktu, tergesa-gesa tanpa rasa khusyuk, atau bahkan mengerjakannya hanya sekadar menggugurkan kewajiban tanpa kehadiran hati.
Perbaiki Shalat, Maka Allah Perbaiki Hidupmu
Hidup yang baik bukanlah hidup tanpa masalah. Hidup yang baik adalah hidup yang diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapi setiap ujian. Kekuatan itu datang dari salat yang istikamah.
Para ulama berpesan: “Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah (melalui salat), maka Allah akan mencukupi urusannya dengan manusia.”
Jika hari ini hidup terasa sempit dan hati terasa gundah, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Mari bersujud lebih lama, perbaiki wudu kita, dan hadirkan hati dalam setiap takbir. Sebab, saat kita memperbaiki hubungan dengan Allah, Dia akan memperbaiki seluruh aspek kehidupan kita. Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab. (*/)












