Khazanah

Cara Rasulullah Memulai Pagi: Siwak, Doa, dan Kata Mesra untuk Istri

×

Cara Rasulullah Memulai Pagi: Siwak, Doa, dan Kata Mesra untuk Istri

Sebarkan artikel ini
Foto: dok/ilustrasi

TASIKMALAYA – Cahaya fajar perlahan menghapus gelapnya malam. Suara azan Subuh yang dikumandangkan Bilal bin Rabah membelah keheningan Kota Madinah. Di waktu penuh berkah itu, Rasulullah SAW baru saja terlelap, mengistirahatkan raga setelah menunaikan qiyamullail cukup lama.

Begitulah keseharian Nabi Muhammad SAW. Hidup beliau dipenuhi ibadah, namun tetap sarat dengan perhatian dan cinta, terutama kepada keluarga.

Saat azan Subuh berkumandang, Rasulullah SAW terbangun. Hal pertama yang beliau lakukan bukanlah berbicara atau beraktivitas lain, melainkan mengambil siwak dan membersihkan mulutnya. Setelah itu, beliau membaca doa bangun tidur:

“Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur.”

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kami semua akan dibangkitkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah bangun, Rasulullah SAW melanjutkan rutinitas paginya dengan penuh ketertiban. Jika perlu mandi, beliau mandi. Jika tidak, beliau berwudhu. Kemudian beliau menunaikan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh.

Namun, ada satu detail kecil yang sering luput dari perhatian banyak orang.

Seusai shalat, ketika istri beliau telah bangun, Rasulullah SAW menuturkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan. Kata-kata lembut. Bisikan mesra. Ungkapan cinta yang menguatkan hati.

BACA JUGA : Anak adalah Ujian Hidup: 5 Potensi Keburukan yang Harus Diwaspadai Orangtua Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Bayangkan, bagaimana perasaan seorang istri yang memulai harinya dengan kata-kata penuh kasih dari suaminya, disampaikan dengan mulut yang bersih dan aroma yang wangi?

Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Berdoa?

Menarik untuk direnungkan, Rasulullah SAW bersiwak terlebih dahulu sebelum berdoa. Ini bukan tanpa alasan.

Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Siwak itu membersihkan mulut dan membuat Rabb senang.”
(HR. An-Nasa’i)

Hadits ini menegaskan bahwa siwak bukan sekadar membersihkan gigi. Ia menjaga kebersihan mulut, menghadirkan aroma yang baik, sekaligus menjadi amalan yang dicintai Allah SWT.

Artinya, Rasulullah SAW ingin berdoa kepada Rabb-Nya dalam keadaan terbaik—bersih, wangi, dan beradab.

Hal lain yang tak kalah indah adalah kebiasaan Rasulullah SAW bangun lebih dahulu dari istrinya. Ketika sang istri terbangun, beliau menyambutnya dengan kata-kata yang menenangkan dan membahagiakan.

Inilah teladan rumah tangga yang sering terlewat kita perhatikan.

Pada banyak pasangan yang telah lama menikah, kata-kata mesra sering dianggap tak lagi penting. Suami merasa, “istri pasti sudah tahu perasaanku.” Maka ungkapan cinta pun perlahan menghilang.

Namun Rasulullah SAW justru sebaliknya.

Beliau adalah manusia terbaik bagi keluarganya. Dan justru karena itulah beliau tak pernah lelah mengungkapkan rasa cinta. Kata-kata lembut bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan dan kemuliaan akhlak.

Sebagian orang beranggapan, “yang penting perbuatan, bukan kata-kata.”
Padahal Rasulullah SAW mencontohkan keduanya sekaligus.

Perbuatan yang nyata, disempurnakan dengan ungkapan yang menenangkan hati.

Aroma mulut yang wangi berpadu dengan bisikan mesra penuh cinta—sungguh sebuah mood booster luar biasa bagi para istri untuk memulai hari yang panjang dan melelahkan.

Wahai para suami, jangan remehkan hal-hal kecil. Jangan pelit dengan kata-kata baik. Jangan menunggu momen besar untuk mengungkapkan cinta.

Karena Rasulullah SAW telah mencontohkannya dalam rutinitas pagi yang mungkin hanya memakan waktu sekitar 15 menit—namun berdampak besar bagi keharmonisan rumah tangga.

Sungguh, bisikan mesramu mampu mencerahkan pagi istrimu. Dan dari pagi yang cerah, lahirlah hari yang penuh berkah. (*/)