TASIKMALAYA – Seperti halnya sebuah tanaman yang ditanam dengan komposisi terbaik, tanah yang subur, pupuk yang tepat, dan bibit unggulan, maka tugas pemiliknya hanyalah merawat dan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Adapun hasilnya, diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Begitulah sejatinya cara Islam memandang proses merawat generasi. Orang tua dan pendidik bertugas menumbuhkan, sementara Allah-lah yang menanam dan menumbuhkan dengan kehendak-Nya.
Dalam proses kehamilan, Allah telah memberikan kesempatan emas kepada orang tua untuk menanamkan nilai-nilai keimanan sejak dini. Al-Qur’an menggambarkan hal ini melalui doa istri ‘Imran ketika mengandung Maryam:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu…”
(QS. Ali Imran: 35)
Doa ini menunjukkan bahwa pendidikan iman dimulai bahkan sebelum seorang anak dilahirkan.
Allah Telah Menanamkan Fitrah Keimanan
Allah SWT menegaskan bahwa setiap manusia telah membawa fitrah keimanan sejak awal penciptaannya:
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.”
(QS. Al-A’raf: 172)
Ayat ini menjadi dasar bahwa keimanan bukan sesuatu yang asing bagi manusia. Ia sudah tertanam dalam ruh, bahkan sebelum manusia hadir ke dunia.
BACA JUGA : Urutan Pendidikan Menentukan Masa Depan Generasi, Belajar dari Tiga Fase Kehidupan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam sabdanya:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Mulla Ali Al-Qari menjelaskan bahwa fitrah yang dimaksud adalah fitrah tauhid dan kesiapan menerima syariat Islam. Jika seorang anak dibiarkan tumbuh sesuai fitrahnya, ia akan cenderung kepada Islam dan kebenaran.
Peran Lingkungan dan Tanggung Jawab Orang Tua
Meski fitrah iman telah ditanam oleh Allah, anak tidak mungkin tumbuh “lurus” tanpa sentuhan lingkungan. Orang tua dan pendidik memegang peran krusial dalam menjaga dan menumbuhkan iman tersebut.
Lingkungan adalah tantangan sekaligus ladang amal. Dari sinilah Islam memberi tanggung jawab besar kepada orang tua untuk mengawal pertumbuhan iman anak sejak dalam kandungan.
Ilmu Modern Membuktikan: Janin Bisa Belajar
Penelitian ilmiah modern justru menguatkan apa yang telah Allah dan Rasul-Nya sampaikan.
Studi DeCasper dan Spence (1986) membuktikan bahwa janin mampu mengenali suara dan cerita yang sering didengar selama dalam kandungan. Bayi yang sejak janin sering diperdengarkan cerita tertentu akan lebih merespons cerita tersebut setelah lahir.
Penelitian lain oleh Dr. Fred J. Schwartz menemukan bahwa:
-
Janin dapat mendengar suara dari luar dan dari ibunya
-
Emosi ibu memengaruhi ekspresi janin
-
Janin mampu belajar bahasa, bahkan dua bahasa sekaligus
Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi, ketenangan, dan nilai spiritual selama kehamilan.
Teladan Pendidikan Maryam dan Nabi Zakaria
Ketika Maryam dilahirkan, ibunya kembali menyerahkan perlindungan anaknya kepada Allah:
“Aku mohon perlindungan untuknya dan anak keturunannya dari setan yang terkutuk.”
(QS. Ali Imran: 36)
Allah menerima nazar tersebut dan menghadirkan pendidik terbaik, yakni Nabi Zakaria AS:
“Allah mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan menjadikan Zakaria sebagai pemeliharanya.”
(QS. Ali Imran: 37)
Ini menunjukkan bahwa pendidikan terbaik lahir dari sinergi doa orang tua, lingkungan yang saleh, dan pendidik yang berakidah kokoh.
Pendidikan: Menumbuhkan Apa yang Allah Tanam
Istilah tarbiyah sendiri berasal dari kata rabb, yang bermakna menumbuhkan, merawat, menjaga, dan mengembangkan. Artinya, pendidikan sejati bukan menciptakan iman dari nol, tetapi menumbuhkan apa yang telah Allah tanam.
Di tangan orang tua dan pendidiklah tanggung jawab besar itu berada: menghadirkan generasi yang akarnya kuat, batangnya menjulang, dan buahnya memberi manfaat di setiap musim.
Karena sesungguhnya, Allah yang menanam, dan Allah pula yang menumbuhkan. (*/)












