TASIKMALAYA – Anak sering disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia. Namun di balik kebahagiaan dan keindahan itu, Al-Qur’an dengan tegas menyebut anak sebagai cobaan hidup bagi orangtuanya. Hal ini ditegaskan dalam QS Al-Anfal ayat 28 dan QS At-Taghabun ayat 15.
Layaknya sebuah ujian, keberadaan anak bisa mengantarkan orangtua kepada kemuliaan, tetapi juga bisa menjerumuskan jika tidak disikapi dengan ilmu dan kesadaran iman. Tidak sedikit orangtua yang larut menikmati kehadiran anak, sibuk mengurus dan memakmurkan mereka, hingga lupa menjaga kualitas dirinya sebagai hamba Allah.
Islam mengingatkan, ada potensi keburukan dari keberadaan anak jika orangtua gagal mendidik dan mengelola amanah tersebut. Berikut 5 potensi keburukan anak bagi orangtua, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW.
1. Anak Bisa Menjauhkan Orangtua dari Dzikir kepada Allah
Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
(QS Al-Munafiqun: 9)
Dzikir adalah kewajiban utama seorang hamba, dalam kondisi apapun dan aktivitas apapun. Dzikir tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan yang sesuai dengan keridaan Allah.
Anak berpotensi melalaikan orangtua dari dzikir jika seluruh waktu, perhatian, dan energi tersedot tanpa keseimbangan iman. Karena itu, orangtua dituntut mampu menjaga amanah anak tanpa mengorbankan hubungannya dengan Allah.
2. Anak Bisa Menumbuhkan Sifat Pelit
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya anak menjadi penyebab sifat pelit, pengecut, bodoh, dan sedih.”
(HR Hakim dan Thabrani, dishahihkan Al-Albani)
Beban biaya pendidikan dan kebutuhan anak sering kali membuat orangtua merasa takut kekurangan, lalu berubah menjadi pelit. Padahal dalam harta seorang muslim, terdapat hak fakir miskin, kerabat, dan kepentingan sosial lainnya.
Islam mengajarkan, tanggung jawab membesarkan anak tidak boleh mematikan sifat dermawan.
3. Anak Bisa Menyebabkan Orangtua Menjadi Pengecut
Rasa cinta berlebihan kepada anak, takut kehilangan, dan khawatir masa depan mereka bisa menumbuhkan sifat pengecut. Orangtua menjadi takut mengambil keputusan besar, takut merantau, takut berjihad dalam makna luas, bahkan takut mati.
Padahal kehidupan membutuhkan keberanian. Ada waktu berkumpul, ada waktu berpisah. Ada masa lapang, ada masa sempit.
BACA JUGA : Peran Perempuan dalam Peradaban: Dari Rahim Ibu Lahir Generasi Emas Umat
Keyakinan bahwa anak adalah titipan Allah dan bahwa apa yang dititipkan kepada-Nya tidak akan pernah hilang, akan menjaga keberanian orangtua dalam menjalani hidup.
4. Anak Bisa Menjadi Penyebab Kebodohan
Kesibukan mengurus anak sering dijadikan alasan berhenti belajar. Waktu berkurang, tenaga habis, dan minat menuntut ilmu perlahan menghilang.
Padahal, ilmu adalah modal utama mendidik anak. Bagaimana mungkin orangtua berharap anak tumbuh berilmu, jika dirinya sendiri berhenti belajar?
Anak tidak boleh menjadi alasan orangtua kehilangan semangat menuntut ilmu. Justru keberadaan anak seharusnya menjadi pendorong untuk terus memperbaiki kualitas diri.
5. Anak Bisa Menyebabkan Kesedihan Berkepanjangan
Anak sakit, bermasalah di sekolah, atau berbuat kesalahan sering membuat orangtua larut dalam kesedihan berlebihan. Kepanikan dan kesedihan ini kerap menghentikan banyak kebaikan dan amal saleh.
Kesedihan adalah fitrah manusia, tetapi tidak boleh menguasai seluruh kehidupan orangtua hingga melemahkan iman dan amal.
Islam mengajarkan keseimbangan jiwa: sabar, tawakal, dan tetap bergerak dalam kebaikan.
Anak adalah nikmat sekaligus ujian. Keberhasilan orangtua bukan hanya ketika anak tumbuh besar dan sukses duniawi, tetapi ketika orangtua lulus dalam ujian iman, ilmu, dan akhlak bersama anak-anaknya.
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami sebagai kebaikan bagi kami.”
Aamiin. (*/)












