Khazanah

Amalan Bisa Sia-sia! Ini 6 Perkara yang Diam-diam Menghapus Pahala Ibadah

×

Amalan Bisa Sia-sia! Ini 6 Perkara yang Diam-diam Menghapus Pahala Ibadah

Sebarkan artikel ini
Foto: dok/ilustrasi

TASIKMALAYA — Dalam Islam, seorang mukmin diajarkan bahwa syarat diterimanya amalan bukan sekadar banyaknya ibadah, melainkan terpenuhinya dua perkara utama: Al-Ikhlas dan Al-Ittiba’. Ikhlas berarti memurnikan niat hanya untuk Allah, sementara ittiba’ adalah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah.

Namun, ternyata tugas seorang mukmin tidak berhenti pada pelaksanaan amal. Ada perkara yang jauh lebih berat dan sering luput dari perhatian, yaitu menjaga pahala amalan agar tidak terhapus sia-sia.

BACA JUGA : Bulan Sya’ban: Momentum Taubat dan Persiapan Terbaik Menuju Ramadhan

Betapa banyak orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala besar, namun mendapati amalnya lenyap karena kesalahan yang dianggap sepele. Berikut enam perkara yang dapat mengurangi bahkan menghapus pahala amalan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

1. Ujub dan Bangga Diri

Merasa kagum dan bangga terhadap diri sendiri termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada tiga hal yang membinasakan seseorang, salah satunya adalah merasa ujub terhadap dirinya sendiri.” (HR. Hasan)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa ujub bisa membatalkan atau menghapus pahala amal.
Shalat malam, sedekah, atau amal besar lainnya bukanlah hasil kehebatan diri, melainkan taufik dari Allah. Meremehkan orang lain karena amal kita justru bisa menjadi sebab hilangnya pahala.

2. Menzalimi dan Menyakiti Sesama Muslim

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut orang yang bangkrut di akhirat bukan karena miskin harta, tetapi karena kezaliman terhadap manusia.

Dalam hadits sahih riwayat Muslim, Nabi menjelaskan bahwa orang yang rajin shalat, puasa, dan zakat bisa kehilangan seluruh pahalanya karena suka mencaci, memfitnah, memukul, atau mengambil hak orang lain.
Pahala amalnya akan dipindahkan kepada orang-orang yang ia zalimi, hingga habis, lalu dosa mereka ditimpakan kepadanya.

3. Bermaksiat Saat Sendiri

Salah satu ancaman paling mengerikan datang dari hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa akan ada kaum dari umatnya yang datang dengan pahala sebesar gunung, namun Allah menjadikannya debu yang beterbangan.

Mereka bukan orang asing. Mereka shalat malam dan beribadah, tetapi saat sendiri mereka melanggar larangan Allah.
Ini menjadi peringatan keras bahwa rasa takut kepada Allah harus hidup dalam sepi maupun ramai.

4. Menyebut-nyebut Sedekah dan Menyakiti Penerima

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 264 agar kaum beriman tidak merusak sedekah dengan al-mann (menyebut-nyebutnya) dan menyakiti perasaan penerima.

Islam bahkan mengangkat derajat orang yang bersedekah secara diam-diam. Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan, salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah adalah orang yang menyembunyikan sedekahnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya.

5. Meremehkan Mukmin yang Berdosa

Ucapan seperti “Allah pasti tidak akan mengampuni fulan” bukan hanya berbahaya, tetapi bisa menghapus pahala amal.

Dalam hadits riwayat Muslim, Allah justru mengampuni orang yang diremehkan tersebut dan menggugurkan amal orang yang merasa paling suci.
Para ulama menegaskan bahwa ucapan ini termasuk mendahului keputusan Allah dan membuat orang lain putus asa dari rahmat-Nya.

6. Menyekutukan Allah (Syirik)

Syirik adalah penghapus amal paling fatal. Allah berfirman:

“Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu.” (QS. Az-Zumar: 65)

Ancaman ini bahkan ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apalagi manusia biasa.
Meski terhindar dari syirik besar, syirik kecil seperti riya dan sum’ah tetap harus diwaspadai karena dapat merusak keikhlasan.

Seorang mukmin tidak cukup hanya rajin beramal, tetapi juga takut amalnya tidak diterima. Inilah sikap para salafus shalih: beramal dengan sungguh-sungguh, lalu khawatir amalnya tertolak.

Semoga Allah azza wa jalla senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk ikhlas, istiqamah, dan dijauhkan dari segala perkara yang menghapus pahala amal. Aamiin. (*/)