TASIKMALAYA – Syahwat kerap dipersepsikan secara keliru sebagai sesuatu yang memalukan, kotor, bahkan identik dengan dosa. Tak sedikit laki-laki merasa bersalah hanya karena memiliki dorongan seksual. Padahal dalam perspektif Islam, syahwat bukanlah aib, melainkan fitrah manusia yang diciptakan Allah sebagai bagian dari kehidupan.
Islam tidak memerangi syahwat, tetapi mengarahkannya. Kesalahan besar justru terjadi ketika dorongan ini ditekan tanpa pemahaman, atau sebaliknya dilepas tanpa kendali.
Syahwat Diakui dan Dimuliakan dalam Islam
Rasulullah ﷺ secara tegas mengakui keberadaan syahwat sebagai bagian dari kehidupan manusia. Dalam sebuah hadis sahih, Nabi ﷺ bersabda:
“Diberikan kepadaku dari perkara dunia adalah kecintaan kepada wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku dalam salat.”
(HR. An-Nasa’i no. 3939)
Hadis ini menegaskan bahwa dorongan kepada lawan jenis bukanlah sesuatu yang hina. Justru, syahwat menjadi bekal penting dalam membangun keluarga, menjaga keberlangsungan keturunan, dan menciptakan keharmonisan rumah tangga.
BACA JUGA : 5 Penyakit Hati Paling Berbahaya dalam Islam yang Merusak Iman dan Amal
Tanpa syahwat, pernikahan kehilangan ruh kehangatan, dan kehidupan keluarga menjadi kering dari kasih sayang.
Islam Melarang Zina, Bukan Syahwat
Yang dilarang dalam Islam bukanlah syahwatnya, melainkan penyalahgunaannya. Karena itu, Allah Ta’ala tidak hanya mengharamkan zina, tetapi juga melarang segala hal yang mendekatinya.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)
Larangan ini menunjukkan pendekatan preventif Islam: menjaga pandangan, menghindari khalwat, serta menutup pintu-pintu yang mengarah pada perbuatan maksiat.
Syahwat Itu Netral, Nilainya Ditentukan oleh Arah
Dalam Islam, syahwat bersifat netral. Ia bisa menjadi sumber pahala, atau sebaliknya menjadi sebab kehinaan. Semuanya tergantung bagaimana manusia mengarahkannya.
Bahkan Rasulullah ﷺ menyebut hubungan suami istri sebagai bentuk sedekah. Ketika para sahabat merasa heran, Nabi ﷺ menjelaskan dengan logika yang sederhana namun mendalam:
“Bukankah jika ia menyalurkannya pada yang haram ia berdosa? Maka jika ia menyalurkannya pada yang halal, ia mendapatkan pahala.”
(HR. Muslim no. 2376)
Ini menunjukkan betapa Islam memuliakan penyaluran syahwat yang benar. Aktivitas biologis yang dilakukan dengan niat menjaga kehormatan dan ketaatan bisa bernilai ibadah.
Lingkungan Penuh Fitnah, Tapi Pilihan Tetap di Tangan Manusia
Di era digital, pemicu syahwat hadir hampir tanpa batas: media sosial, iklan, film, musik, hingga percakapan sehari-hari. Fitnah masuk perlahan, membekas di hati jika tidak dilawan.
Rasulullah ﷺ menggambarkan kondisi hati manusia dalam menghadapi fitnah:
“Fitnah-fitnah dipaparkan ke hati seperti anyaman tikar, sedikit demi sedikit…”
(HR. Muslim no. 144)
Hati yang terus menerima fitnah akan menghitam, hingga tidak lagi mengenal kebaikan dan kemungkaran. Namun, hati yang menolak fitnah akan tetap bersih dan bercahaya.
Meski lingkungan buruk, manusia tetap memiliki kehendak bebas: menjaga pandangan, menahan lisan, dan membatasi pergaulan. Setiap usaha kecil bernilai besar di sisi Allah.
Menundukkan Syahwat adalah Jihad Sejati
Laki-laki yang mampu menahan syahwatnya bukanlah lemah, melainkan kuat secara jiwa. Ia adalah pahlawan di medan batin—yang sabar menunggu halal dan tegas menjauhi haram.
Bagi yang belum mampu menikah, Rasulullah ﷺ memberikan solusi yang realistis:
“Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya.”
(HR. Bukhari no. 5065; Muslim no. 1400)
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi sarana menundukkan hawa nafsu dan menguatkan hubungan dengan Allah.
Syahwat sebagai Jalan Menuju Surga
Tujuan hidup seorang muslim bukanlah menghapus syahwat, melainkan mengendalikannya demi meraih rida Allah. Ketika syahwat diarahkan dengan benar, ia menjadi tangga menuju kemuliaan, bukan jurang kehancuran.
Ujian syahwat adalah cara Allah membentuk manusia agar menjadi hamba yang taat, suami yang bertanggung jawab, dan pemimpin yang amanah. Semakin berat ujian, semakin besar potensi pahala.
Jika seseorang bersabar meninggalkan yang haram, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik—di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam. (*/)












