TASIKMALAYA – Parenting Islami bukan sekadar soal kelembutan, tapi juga ketegasan pada nilai. Salah satu pelajaran paling kuat tentang hal ini datang dari kisah sederhana, setangkai anggur.
BACA JUGA : Pahala Mengalir Terus! Ini Alasan Mengapa Amal Kecil yang Rutin Lebih Dicintai Allah daripada Amal Besar yang Sesaat
Kisah ini diriwayatkan oleh banyak ulama hadis, di antaranya Al-Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Adiy, Ibnu Hajar, An-Nawawi, dan lainnya. Meski tampak mirip, para ulama menjelaskan bahwa kisah ini terjadi dalam dua peristiwa berbeda, namun dengan pesan pendidikan yang sama dan sangat relevan untuk orang tua hari ini.
Dua Kisah, Satu Nilai Besar: Amanah
1. Kisah Abdullah bin Busr
Abdullah bin Busr, saat masih kecil, diutus ibunya untuk mengantarkan setangkai anggur kepada Rasulullah ﷺ. Namun di perjalanan, anggur itu ia makan.
Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal tersebut, beliau menegur Abdullah dengan kalimat tegas:
“يَا غُدَرُ”
Wahai pelanggar amanah.
Dalam beberapa riwayat disebutkan:
-
Teguran itu diulang ketika bertemu kembali
-
Ada riwayat beliau menjewer telinga
-
Ada pula yang menyebut mengusap kepala setelahnya
2. Kisah An-Nu’man bin Basyir
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ memberi setangkai anggur dari Thaif kepada An-Nu’man bin Basyir untuk disampaikan kepada ibunya. Namun anggur itu dimakan di jalan.
Beberapa hari kemudian, Rasulullah ﷺ bertanya:
“Bagaimana setangkai anggur itu? Apakah sudah kamu sampaikan kepada ibumu?”
Ketika An-Nu’man menjawab belum, Rasulullah ﷺ pun memberinya julukan: pelanggar amanah.
Mengapa Nabi ﷺ Menegur Anak Kecil dengan Tegas?
Di sinilah letak keindahan parenting Islam yang sering luput dipahami.
1. Amanah adalah nilai inti, bukan hal sepele
Islam tidak menunggu anak dewasa untuk diajarkan amanah. Justru:
-
Sejak kecil, anak dibentuk dengan standar moral yang jelas
-
Kesalahan tidak dinormalisasi, meski dilakukan anak-anak
2. Tegas bukan berarti kasar
Teguran Nabi ﷺ:
-
Tidak menyakiti
-
Tidak merendahkan martabat
-
Tapi cukup tegas untuk membekas
Bahkan setelah teguran, beliau:
-
Mengusap kepala
-
Tetap berinteraksi hangat
Ini bukan hukuman, tapi pendidikan karakter.
3. Rasulullah ﷺ percaya pada fitrah baik anak
Julukan “pelanggar amanah” justru:
-
Membuat anak tidak nyaman
-
Menggerakkan fitrah baiknya
-
Mendorong anak membuktikan bahwa dirinya bukan seperti itu
Anak yang fitrahnya sehat akan berpikir:
“Aku tidak mau dikenal sebagai pengkhianat.”
Pelajaran Penting untuk Parenting Masa Kini
Di era sekarang, banyak orang tua khawatir:
-
Anak trauma
-
Anak merasa tidak dihargai
-
Anak “terlalu ditekan”
Padahal, kisah ini mengajarkan:
✔ Tegas pada nilai, lembut pada jiwa
✔ Jujur pada kesalahan, tidak membungkusnya dengan pembenaran
✔ Percaya bahwa anak mampu memikul tanggung jawab
Parenting Islami bukan permissive parenting.
Islam tidak mendidik anak dengan membiarkan, tapi dengan mengarahkan.
Para ulama hadis tidak tergesa-gesa menyatakan riwayat ini rancu. Al-Mizzi menjelaskan bahwa:
-
Kisah Abdullah bin Busr dan An-Nu’man bin Basyir adalah dua peristiwa berbeda
-
Kesamaan kisah tidak otomatis berarti kesalahan riwayat
Pelajaran pentingnya:
Ilmu tidak dibangun dari klaim, tapi dari proses menelusuri dan menimbang.
Jika hari ini kita merasa berat menerima cara Rasulullah ﷺ menegur anak-anak dalam kisah ini, maka pertanyaannya bukan pada metode beliau, tapi pada diri kita:
Apakah kita masih yakin bahwa anak-anak memiliki fitrah baik?
Ataukah kita justru takut mereka tidak mampu menanggung nilai kebenaran?
Kisah setangkai anggur ini mengajarkan satu hal besar yakni anak layak dipercaya, dan amanah layak ditegakkan—sejak dini.
Penulis : Ust. Budi Ashari (Seri Parenting Nabawiyah)












