Tekanan Dolar terhadap IHSG dan Rupiah

Foto: Rohidin, S.H., M.H., M.Si.

TASIKMALAYA – Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan hebat dalam beberapa waktu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi signifikan dengan ditutup melemah tajam sebesar 4,52 persen ke level 5.342,14. Penurunan ini disertai nilai transaksi yang mencapai Rp21,7 triliun serta volume perdagangan sebanyak 29,9 miliar lembar saham. Tekanan jual semakin dalam akibat aksi investor asing yang mencatat penjualan bersih (net sell) senilai Rp447,1 miliar di seluruh pasar. Hal ini mencerminkan arus modal keluar (capital outflow) yang cukup besar dari pasar modal dalam negeri.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan dolar terhadap IHSG dan rupiah yang terjadi secara bersamaan mengakibatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin memburuk. Rata-rata kurs rupiah berada pada level Rp17.890 per dolar AS atau nyaris menembus angka Rp18.000 per dolar AS. Penurunan nilai tukar rupiah ini menjadi pemicu bagi para investor untuk menjual aset berdenominasi rupiah secara serentak.

Bacaan Lainnya

Tekanan ganda dolar terhadap IHSG dan rupiah menjadi persoalan serius bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Pasalnya, pelemahan ini merupakan sinyal risiko yang bersifat menyeluruh karena dua penyangga utama pasar bergerak melemah secara bersamaan tanpa diimbangi faktor penyeimbang. Idealnya, ketika rupiah melemah, ekspor menjadi lebih kompetitif. Namun, kali ini situasinya berbeda. Penulis mengamati bahwa dalam kondisi tersebut investor asing justru keluar secara serentak. Mereka menjual saham, kemudian mengonversi hasil penjualan ke dolar AS sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Melemahnya IHSG dan rupiah merupakan persoalan serius bagi Indonesia. Bahkan, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan cadangan devisa selama lima bulan berturut-turut hingga mencapai USD144,9 miliar pada Mei 2026. Kondisi ini memicu peringatan dari sejumlah ekonom mengenai pentingnya meningkatkan kewaspadaan, mengingat kebutuhan valuta asing tetap tinggi di tengah tren penyempitan surplus neraca perdagangan Indonesia.

Persoalan tersebut membuat Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan yang semakin berat dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Fenomena inilah yang saat ini terjadi di Indonesia sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada pada level yang tinggi dan sulit dikendalikan.

Dua Faktor Pemicu

Melemahnya IHSG dan rupiah tidak terjadi begitu saja. Menurut pandangan penulis, setidaknya terdapat dua faktor utama yang menjadi pemicu gejolak tersebut, yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

Faktor eksternal berasal dari menguatnya dolar AS yang didukung oleh kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian ekonomi global dan mendorong investor untuk mengalihkan dananya ke aset-aset yang dianggap lebih aman.

Sementara itu, faktor internal atau domestik dipicu oleh menyempitnya surplus neraca perdagangan, meningkatnya tekanan fiskal, serta ekspektasi kenaikan inflasi akibat mahalnya biaya impor. Kondisi tersebut menyebabkan IHSG menembus level psikologis tertentu yang memicu aksi jual otomatis (automatic sell-off) dan mendorong penurunan yang lebih dalam.

BACA JUGA : Pertamina Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga Pertamax Series, Harga Pertalite dan Solar Subsidi Tetap

Persoalan melemahnya IHSG dan rupiah membuat masyarakat dan pemerintah berada dalam posisi yang semakin tertekan. Meskipun demikian, dunia usaha masih memberikan secercah harapan melalui sentimen positif dari kalangan korporasi.

Di tengah tekanan yang masih berlanjut, sejumlah perusahaan besar berupaya menjaga kepercayaan investor. PT Mayora Indah Tbk (MYOR), misalnya, mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp1,32 triliun atau Rp60 per saham. Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyetujui pembagian dividen sebesar Rp21,9 triliun atau Rp221 per saham, sekaligus mengalokasikan dana hingga Rp4 triliun untuk program pembelian kembali saham (buyback).

Lalu, mampukah sentimen positif korporasi tersebut membangkitkan kembali stabilitas IHSG dan rupiah?

Skenario dan Prospek

Jawabannya memerlukan analisis yang komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai skenario. Dalam skenario optimistis (bullish), IHSG berpotensi memantul apabila mampu bertahan di atas level 5.422 dan nilai tukar rupiah tetap stabil di bawah Rp17.900 per dolar AS.

Sebaliknya, apabila IHSG menembus level 5.300 ke bawah, koreksi berpotensi berlanjut lebih dalam. Kondisi tersebut membutuhkan respons kebijakan yang tegas dan tidak dapat hanya mengandalkan instrumen suku bunga.

Menurut analisis teknikal Satriawan, Chartist Maybank Sekuritas, terdapat dua skenario pergerakan indeks yang perlu dicermati. Dalam skenario optimistis, IHSG harus mampu menghentikan fase koreksi dan memasuki area pembalikan arah pada kisaran level 5.422. Kondisi tersebut dapat tercapai apabila didukung oleh perbaikan neraca perdagangan dan meningkatnya kepastian kebijakan ekonomi.

Pada akhirnya, pemulihan IHSG dan penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada kondisi global, tetapi juga pada kemampuan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi serta kepercayaan investor. Kepercayaan itulah yang akan menjadi fondasi utama bagi pemulihan pasar keuangan Indonesia. (*/)

Oleh: Rohidin, S.H., M.H., M.Si.

Penulis adalah Sultan Patrakusumah VIII – Trustee Guarantee Phoenix INA 18.

Pos terkait