TASIKMALAYA – Dalam ajaran Islam, hati (qalb) menempati kedudukan yang sangat agung dan menentukan kualitas hidup seorang hamba. Ia bukan sekadar organ biologis, melainkan pusat iman, niat, keikhlasan, dan penggerak utama seluruh amal perbuatan manusia. Baik atau buruknya perilaku seseorang berakar dari kondisi hatinya.
Para ulama sejak dahulu menegaskan bahwa hati adalah pemimpin seluruh anggota tubuh. Jika hati lurus dan sehat, maka amal perbuatan pun akan berjalan di atas kebaikan. Sebaliknya, jika hati rusak, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti kerusakan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Dan jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”
(HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan:
“Hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuh, dan anggota tubuh adalah tentaranya. Jika rajanya baik, maka tentaranya akan baik; dan jika rajanya rusak, maka tenteranya pun rusak.”
(Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, 1:210)
Karena itulah, menjaga hati dari penyakit-penyakit yang merusaknya merupakan kewajiban setiap muslim. Para ulama menyebutkan ada lima penyakit hati paling berbahaya yang dapat menghancurkan iman dan amal seseorang.
1. Syirik, Penyakit Hati Paling Berbahaya
Syirik adalah mempersekutukan Allah dalam ibadah, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Inilah dosa terbesar dan penyakit hati paling mematikan, karena merusak tauhid dan menghapus seluruh amal.
BACA JUGA : Mengapa Hidup Terasa Berat? Bisa Jadi Shalatmu Perlu Diperbaiki
Allah Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa’: 48)
Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan:
“Kezaliman yang paling besar adalah syirik, yaitu menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Sang Pencipta.”
(Madarij as-Salikin, 1:340)
Syirik menjadikan hati bergantung kepada selain Allah, menghancurkan keikhlasan, dan mengantarkan pelakunya pada kebinasaan abadi jika tidak bertaubat.
2. Bidah, Penyimpangan dalam Agama
Bidah adalah mengada-adakan perkara baru dalam agama yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunah. Penyakit ini berbahaya karena sering kali dibungkus dengan niat baik, namun justru menyelisihi tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa membuat perkara baru dalam agama kami yang tidak ada tuntunannya, maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Asy-Syathibi rahimahullah berkata:
“Setiap orang yang memasukkan sesuatu ke dalam agama yang bukan darinya, maka sungguh ia telah mengubah agama.”
(Al-I‘tisam, 1:37)
Bidah membuat pelakunya sulit menerima kebenaran karena merasa telah berada di jalan yang benar, padahal ia justru menjauh dari sunah.
3. Syahwat, Mengikuti Hawa Nafsu Tanpa Kendali
Syahwat adalah kecenderungan jiwa terhadap hal-hal yang disukai. Jika tidak dikendalikan oleh iman dan ilmu, syahwat akan berubah menjadi penyakit hati yang menyesatkan.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jihad yang paling utama adalah berjihad melawan diri dan hawa nafsu.”
(HR. Ibnu Najjar, sahih)
Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa jihad melawan hawa nafsu adalah jihad terbesar, karena ia menjadi pintu menuju seluruh dosa dan kemaksiatan.
4. Ghaflah, Lalai dari Mengingat Allah
Ghaflah (kelalaian) membuat seseorang sibuk dengan dunia, lupa tujuan hidup, dan jauh dari akhirat. Hati yang lalai akan menjadi keras dan sulit menerima nasihat.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Hasyr: 19)
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:
“Yang paling banyak merusak manusia adalah kelalaiannya dan lupanya terhadap akhirat.”
(Shaidul Khatir)
Ghaflah menyebabkan ibadah terasa berat, doa tidak khusyuk, dan hidup terasa kosong meskipun bergelimang kenikmatan dunia.
5. Ghil (Hasad), Penyakit yang Menghancurkan Ukhuwah
Ghil atau hasad adalah perasaan tidak suka terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, bahkan berharap nikmat itu hilang. Penyakit ini merusak hati dan menghancurkan persaudaraan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kalian saling hasad, saling membenci, dan saling memutuskan hubungan.”
(HR. Muslim no. 2564)
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Hasad melahap kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”
(Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam)
Hasad membuat hati gelisah, penuh kebencian, dan jauh dari ketenangan iman.
Lima penyakit hati seperti syirik, bidah, syahwat, ghaflah, dan ghil merupakan ancaman serius bagi keimanan seorang muslim. Semua bermula dari hati dan berakhir pada amal.
Seorang mukmin dituntut untuk senantiasa membersihkan hatinya dengan tauhid, ilmu, zikir, dan amal saleh. Karena hati yang sehat akan melahirkan kehidupan yang lurus, tenang, dan diridhai Allah.
Semoga Allah Ta‘ala senantiasa menjaga hati kita dari segala penyakit, meneguhkannya di atas agama yang lurus, serta mengumpulkan kita kelak bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
“Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69). Wallahu a‘lam bisshawab. (*/)












