TASIKMALAYA – Belakangan ini, istilah childfree atau keputusan pasangan suami istri untuk tidak memiliki keturunan secara sengaja, menjadi topik hangat yang memicu perdebatan di media sosial. Berawal dari pernyataan seorang influencer, publik pun mulai bertanya-tanya, bagaimana Islam memandang tren ini?
BACA JUGA : Amalan Bisa Sia-sia! Ini 6 Perkara yang Diam-diam Menghapus Pahala Ibadah
Bagi umat Muslim, pernikahan bukan sekadar ikatan emosional dan pemenuhan kebutuhan biologis. Di dalamnya terdapat tanggung jawab spiritual yang besar. Lantas, apa saja poin penting yang harus dipahami Muslim terkait fenomena childfree?
1. Anak Adalah Ketetapan Mutlak Allah (Bukan Sekadar Pilihan)
Banyak orang menganggap memiliki anak adalah murni “pilihan” manusia. Namun, secara akidah, kehadiran buah hati adalah hak prerogatif Allah Ta’ala. Dalam QS. As-Syura: 49-50, Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang memberi anak perempuan, anak laki-laki, atau menjadikan seseorang mandul sesuai kehendak-Nya.
Memilih childfree secara permanen seolah-olah “menutup pintu” sebelum Allah menetapkannya, yang oleh sebagian ulama dipandang sebagai sikap yang kurang beradab terhadap ketetapan Sang Pencipta.
2. Menjaga Keturunan: Salah Satu Misi Utama Pernikahan
Dalam syariat Islam, dikenal konsep Maqashid asy-Syariah (tujuan-tujuan syariat), di mana salah satunya adalah Hifzhun Nasl atau menjaga keturunan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tegas menganjurkan umatnya untuk menikahi wanita yang penyayang dan subur.
“Nikahilah wanita yang pengasih dan punya banyak keturunan karena aku sangat berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat lain.” (HR. Abu Daud & An-Nasa’i).
3. “Investasi” Pahala yang Tak Terputus
Salah satu kerugian terbesar dari pilihan childfree adalah hilangnya kesempatan mendapatkan amal jariyah setelah kematian. Rasulullah SAW menyebutkan ada tiga amalan yang pahalanya tetap mengalir meski seseorang sudah dikubur:
-
Sedekah jariyah.
-
Ilmu yang bermanfaat.
-
Anak shalih yang mendoakan orang tuanya.
Mungkin kita merasa cukup dengan sedekah, namun siapa yang bisa menjamin sedekah kita diterima? Kehadiran anak shalih menjadi “cadangan” pahala dan permohonan ampun (istighfar) yang terus mengetuk pintu langit untuk kita.
4. Syafaat dan Kemuliaan di Surga
Islam memberikan kabar gembira bahwa anak yang meninggal sebelum baligh dapat menjadi pemberi syafaat (penolong) bagi orang tuanya untuk masuk surga. Selain itu, ada derajat-derajat tinggi di surga yang hanya bisa dicapai seseorang bukan karena amalannya, melainkan karena permohonan ampunan dari anaknya yang masih hidup.
Antara Mengatur Jarak Kelahiran dan Childfree
Perlu digarisbawahi, Islam membolehkan pasangan untuk mengatur jarak kelahiran (tanzhimun nasl) demi alasan kesehatan ibu atau pendidikan anak. Namun, menolak anak secara total dan permanen (childfree) hanya karena takut miskin atau takut kehilangan kebebasan duniawi, dipandang sangat bertentangan dengan prinsip tawakal.
BACA JUGA : Bulan Sya’ban: Momentum Taubat dan Persiapan Terbaik Menuju Ramadhan
Kesimpulan: Memiliki anak memang tantangan besar, namun di balik setiap tangis dan tawa mereka, ada keberkahan yang tak terhingga. Menolak kehadiran anak secara sengaja berarti melepaskan banyak peluang kemuliaan yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bish-shawabi. (*/)












