TASIKMALAYA – Setelah berakhirnya bulan Rajab, umat Islam kini memasuki bulan Sya’ban 1448 Hijriah, sebuah fase penting yang menjadi jembatan menuju datangnya bulan suci Ramadhan. Meski berada di antara dua bulan mulia yaitu Rajab dan Ramadhan, Sya’ban justru kerap luput dari perhatian, padahal keutamaannya sangat besar.
BACA JUGA : Kisah Setangkai Anggur: Cara Rasulullah Mendidik Anak tentang Amanah
Rasulullah SAW sendiri menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:
“Itu adalah bulan yang sering dilupakan manusia, terletak antara Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam. Dan aku suka ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”
(HR Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Hadits ini menjadi penegasan bahwa bulan Sya’ban adalah momentum spiritual penting, terutama untuk memperbanyak ibadah dan introspeksi diri sebelum Ramadhan tiba.
Rasulullah Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah sebanyak di bulan Sya’ban. Riwayat ini menjadi dasar kuat tentang kemuliaan bulan Sya’ban dalam praktik langsung Nabi Muhammad SAW.
Pada bulan ini, Allah SWT melimpahkan berbagai bentuk kebaikan kepada hamba-Nya, mulai dari syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), hingga itqun min an-nar, yakni pembebasan dari siksa api neraka.
Keistimewaan Sya’ban semakin terasa pada pertengahan bulan, yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya’ban, yaitu malam dan hari tanggal 15 Sya’ban.
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam Nisfu Sya’ban:
-
Catatan amal manusia yang ditulis oleh malaikat Raqib dan Atid diserahkan kepada Allah SWT
-
Buku catatan amal tahunan diganti dengan yang baru
Keyakinan ini semakin menegaskan pentingnya memperbanyak ibadah, taubat, dan doa di bulan Sya’ban, khususnya menjelang Nisfu Sya’ban.
Tiga Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Sya’ban
Selain keutamaannya, bulan Sya’ban juga mencatat sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam, sebagaimana dilansir dari NU Online. Setidaknya ada tiga peristiwa besar yang terjadi pada bulan ini:
1. Peralihan Kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram
Peristiwa monumental ini terjadi pada bulan Sya’ban. Menurut Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti, perintah peralihan kiblat turun pada malam Selasa di bulan Sya’ban, bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban.
Peralihan kiblat ini sangat dinantikan Rasulullah SAW. Bahkan Allah SWT menggambarkan penantian tersebut dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:
“Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”
Ayat ini menjadi bukti kedekatan spiritual Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT, sekaligus menandai babak baru arah ibadah umat Islam.
2. Penyerahan Rekapitulasi Amal Tahunan
Pada bulan Sya’ban, seluruh rekapitulasi amal manusia selama satu tahun diserahkan kepada Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam hadits riwayat An-Nasa’i yang dikutip oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Dalam dialog antara Usamah bin Zaid dan Rasulullah SAW, Nabi menjelaskan bahwa alasan beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah karena pada bulan inilah amal-amal diangkat secara menyeluruh kepada Allah SWT.
Meski penyerahan amal juga terjadi harian dan mingguan, bulan Sya’ban memiliki posisi khusus sebagai momen penyerahan laporan amal tahunan.
3. Turunnya Ayat Anjuran Bershalawat kepada Nabi
Bulan Sya’ban juga menjadi saksi turunnya Surat Al-Ahzab ayat 56, yang berisi perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Ibnu Abi Shai Al-Yamani bahkan menyebut Sya’ban sebagai bulan shalawat, karena ayat agung ini diturunkan pada bulan tersebut.
Momentum Persiapan Menuju Ramadhan
Dengan seluruh keutamaan dan peristiwa besar yang terjadi di dalamnya, bulan Sya’ban sejatinya adalah bulan persiapan ruhani. Inilah waktu terbaik untuk:
-
Memperbanyak puasa sunnah
-
Memperbaiki kualitas ibadah
-
Memperbanyak shalawat
-
Memohon ampunan dan memperbaiki niat
Semoga dengan memahami keutamaan bulan Sya’ban, kita tidak termasuk golongan yang lalai, dan mampu menyambut Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan kesiapan iman yang lebih matang. (*/)












