Khazanah

Boleh Jadi yang Kita Benci Justru Baik bagi Kita, Ini Hikmah Besar di Balik Ujian Hidup

×

Boleh Jadi yang Kita Benci Justru Baik bagi Kita, Ini Hikmah Besar di Balik Ujian Hidup

Sebarkan artikel ini
Foto: dok/ilustrasi

TASIKMALAYA – Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya manusia harus menghadapi kegagalan, kehilangan, dan jalan hidup yang terasa berat. Rencana yang sudah disusun rapi runtuh begitu saja. Harapan tak kunjung terwujud. Cinta yang diperjuangkan berakhir perpisahan. Bertahan pun terasa melelahkan karena ujian datang silih berganti.

Naluri manusia kerap tergesa-gesa menilai keadaan. “Ini buruk. Ini tidak adil.” Sebab, manusia menginginkan hidup yang mulus, indah, dan sesuai ekspektasi. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat segalanya dari sudut pandang yang jauh lebih luas, dengan ilmu dan hikmah yang sempurna.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini turun berkaitan dengan perintah jihad, yang pada saat itu terasa berat bagi para sahabat. Jihad menuntut pengorbanan besar: kelelahan, kehilangan harta, bahkan nyawa. Namun di balik beratnya perintah tersebut, tersimpan kebaikan besar berupa pahala, kemuliaan syahid, perlindungan dari penindasan, hingga kemerdekaan dan kemenangan. (Tafsir As-Sa’di)

BACA JUGA : Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian, Ini Peringatan Keras Ibnul Qayyim

Pesan yang sama kembali ditegaskan Allah dalam konteks berbeda, yakni hubungan suami istri:

فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah), karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS. An-Nisa: 19)

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami bisa saja tidak menyukai sebagian sifat istrinya. Namun, ketidaksukaan itu bukan alasan untuk berbuat zalim, karena bisa jadi Allah menurunkan banyak kebaikan melalui pasangan tersebut, termasuk lahirnya anak-anak saleh yang menjadi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai satu akhlak darinya, hendaklah ia melihat akhlak lain yang ia ridhai.”
(HR. Muslim No. 1469)

Dua ayat tersebut menggambarkan dua bentuk ujian kehidupan:

  • Jihad, yang identik dengan ujian fisik: rasa sakit, luka, dan kematian.

  • Rumah tangga, yang sering menghadirkan ujian batin: kekecewaan, konflik, dan ekspektasi yang tidak terpenuhi.

Namun pesan Allah sama: apa yang terasa menyakitkan hari ini bisa menjadi jalan kebaikan di masa depan. Luka bukan selalu tanda keburukan, melainkan sarana pendewasaan jiwa dan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang bersabar.

Kisah Nyata: Kebijaksanaan Allah pada Ibu Nabi Musa

Salah satu contoh paling nyata tentang hikmah Allah adalah kisah Ibu Nabi Musa ‘alaihis salam. Di masa kekuasaan Fir’aun, setiap bayi laki-laki Bani Israil diperintahkan untuk dibunuh. Dalam ketakutan yang luar biasa, Allah mengilhamkan kepada sang ibu agar menghanyutkan Musa ke Sungai Nil.

Secara logika manusia, itu adalah pilihan paling menakutkan. Namun justru dari sanalah Allah menampakkan pertolongan-Nya. Musa terdampar di istana Fir’aun, diasuh oleh istrinya, dan akhirnya kembali ke pangkuan ibunya dalam keadaan aman, bahkan kelak diangkat menjadi seorang rasul.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai. Janganlah kamu takut dan jangan bersedih, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya termasuk para rasul.’”
(QS. Al-Qashash: 7)

Kisah ini menegaskan satu hal penting:
Ukuran terbaik dalam hidup bukanlah perasaan manusia, melainkan pilihan Allah.

Apa yang kita anggap musibah, bisa jadi adalah penjagaan dari keburukan yang lebih besar. Apa yang terasa pahit, bisa jadi adalah jalan menuju kebaikan yang luas. Allah Maha Mengetahui, sementara manusia sangat terbatas.

Hidup akan selalu berisi ujian. Namun orang beriman diajarkan untuk bersabar, berprasangka baik kepada Allah, dan ridha terhadap ketetapan-Nya. Sebab, Allah tidak pernah keliru dalam menakar takdir hamba-Nya.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa boleh jadi yang kita benci hari ini adalah kebaikan yang kita syukuri di kemudian hari.

اللهم اجعلنا من الصابرين، وارضنا بما قسمت لنا، وبارك لنا في كل حال

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar, rida dengan ketetapan-Mu, dan berkahilah kami dalam setiap keadaan.” (*/)