Khazanah

Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian, Ini Peringatan Keras Ibnul Qayyim

×

Menyia-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian, Ini Peringatan Keras Ibnul Qayyim

Sebarkan artikel ini
Foto: dok/ilustrasi

TASIKMALAYA – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, waktu sering kali berlalu tanpa terasa. Hari berganti hari, pekan demi pekan terlewati, hingga usia terus bertambah tanpa disadari. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenung: ke mana sebenarnya waktu kita dihabiskan?

Islam memandang waktu sebagai nikmat besar sekaligus amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Bahkan, seorang ulama besar, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah, memberikan peringatan yang sangat keras tentang bahaya menyia-nyiakan waktu. Ia menyebutnya lebih berbahaya daripada kematian.

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.”
(Al-Fawaid, hlm. 44)

Pernyataan ini mengandung makna yang sangat dalam dan patut menjadi bahan muhasabah setiap muslim.

Kematian Adalah Kepastian, Kelalaian Adalah Pilihan

Kematian merupakan sesuatu yang pasti. Ia adalah takdir Allah yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Namun, menyia-nyiakan waktu adalah pilihan sadar manusia.

Setiap detik yang berlalu, manusia sejatinya sedang memilih:

  • memilih taat atau bermaksiat,

  • memilih zikir atau lalai,

  • memilih amal saleh atau kesia-siaan.

Inilah yang membuat kelalaian menjadi sangat berbahaya. Karena ia bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan lahir dari keputusan kita sendiri.

BACA JUGA : Syahwat dalam Islam: Fitrah Manusia, Bukan Aib yang Harus Disembunyikan

Allah Ta’ala telah membuka pintu taubat selama hayat masih dikandung badan. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada malam dan siang hari, dan Aku mengampuni dosa semuanya. Maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.”
(HR. Muslim)

Artinya, selama waktu masih ada, kesempatan untuk kembali kepada Allah tetap terbuka lebar.

Dua Nikmat yang Sering Dilalaikan: Sehat dan Waktu Luang

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa banyak manusia tertipu oleh nikmat yang mereka miliki, yaitu kesehatan dan waktu luang.

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Kelalaian terhadap waktu sejatinya adalah bentuk ketidaksyukuran. Waktu adalah modal utama kehidupan, namun sering kali dihabiskan untuk hal-hal yang tidak memberi nilai bagi akhirat.

Dampak Menyia-nyiakan Waktu: Kematian Hati

Menyia-nyiakan waktu tidak hanya berarti bermalas-malasan. Dampaknya jauh lebih dalam, yakni memutus hubungan hati dengan Allah.

Orang yang lalai akan waktunya berpotensi mengalami:

  • hati yang keras,

  • sulit menerima nasihat,

  • jauh dari zikir dan ibadah,

  • kehilangan keberkahan hidup.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Inilah yang disebut sebagai ghaflah (kelalaian), yaitu kondisi di mana seseorang hidup dan beraktivitas, namun hatinya mati karena jauh dari Allah.

Kematian vs Kelalaian: Mana yang Lebih Berbahaya?

Bagi seorang mukmin yang wafat dalam ketaatan, kematian justru menjadi pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan. Namun, kelalaian dalam hidup akan berbuah penyesalan panjang.

Allah menggambarkan penyesalan orang yang menyia-nyiakan hidupnya dalam firman-Nya:

“Ya Rabb-ku, kembalikanlah aku agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Kesempatan beramal hanya ada di dunia.

Bentuk-bentuk Menyia-nyiakan Waktu

Menyia-nyiakan waktu memiliki banyak wajah, di antaranya:

  • terlalu banyak bicara tanpa manfaat, termasuk ghibah dan dusta,

  • penggunaan media sosial berlebihan tanpa tujuan kebaikan,

  • kesibukan dunia yang melalaikan salat dan zikir,

  • menunda-nunda amal saleh dan taubat,

  • bergaul dengan lingkungan yang jauh dari nilai keimanan.

Semua ini perlahan menggerus kualitas iman tanpa disadari.

Cara Menyelamatkan Diri dari Kelalaian

Al-Qur’an telah memberikan pedoman hidup yang sangat ringkas namun mendalam melalui Surah Al-‘Asr:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Asr: 1–3)

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga berpesan agar umatnya memanfaatkan waktu sebelum datang penghalangnya:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara…”
(HR. Al-Hakim)

Menghidupkan zikir, mengingat kematian, serta membiasakan muhasabah harian menjadi kunci agar waktu tidak berlalu sia-sia.

Saatnya Berubah, Jangan Menunggu Nanti

Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Ketika waktu habis, kehidupan pun berakhir. Karena itu, setiap detik adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Mari kita isi waktu dengan amal saleh: tilawah Al-Qur’an, menuntut ilmu, salat sunnah, sedekah, dan silaturahmi. Jangan menunggu esok, karena belum tentu esok masih menjadi milik kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai menjaga waktu, terhindar dari kelalaian, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin. Wallahu a’lam. (*/)