Khazanah

Ketika Cinta Dijaga, Bukan Dimiliki: Kisah Cinta Suci Ummu Hani’ dan Rasulullah ﷺ

×

Ketika Cinta Dijaga, Bukan Dimiliki: Kisah Cinta Suci Ummu Hani’ dan Rasulullah ﷺ

Sebarkan artikel ini
Foto: dok/ilustrasi

TASIKMALAYA – Mari kita belajar kembali tentang cinta. Bukan cinta yang hina, melainkan cinta yang mulia.
Cinta yang diajarkan oleh orang-orang mulia.

Kali ini, kita akan belajar dari dua insan yang saling mencintai. Cinta yang bersemayam lama di dalam hati—sangat lama—namun tetap bertahan dan tak kunjung pergi. Takdir memisahkan mereka, tetapi takdir pula yang kelak mempertemukan mereka kembali.

Cinta mereka begitu tulus dan suci. Begitu tulus hingga tak ada yang mampu memalingkannya.
Begitu suci hingga tak ada syahwat yang mendesaknya.

Mungkin kisah ini akan membuat air mata menetes. Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang begitu mulia, sesuci itu, dan seteguh itu? Dan bagaimana seorang laki-laki mulia dengan tegar mengajari cinta agar senantiasa mewiridkan nama Rabb-nya.

Ini adalah kisah cinta yang nyata. Cinta yang tak lekang oleh zaman. Perpisahan oleh waktu, tempat, dan jarak bukanlah alasan untuk memadamkannya. Justru waktu yang memisahkan seakan menghitung hari, menunggu masa panen tanaman cinta yang kian hari kian ranum.

Namanya Fakhitah, putri Abu Thalib—paman Nabi. Ia adalah saudari Ali dan Ja’far, dan lebih dikenal dengan nama Ummu Hani’.

Ummu Hani’ pernah dilamar oleh seorang laki-laki mulia yang sangat mencintainya. Namun Abu Thalib lebih memilih laki-laki lain bernama Hubairoh untuk menjadi suaminya.

Laki-laki mulia yang lamarannya ditolak itu pun mendatangi Abu Thalib dan mengungkapkan isi hatinya,
“Wahai pamanku, engkau menikahkan ia dengan Hubairoh, sementara engkau menolak aku?”

Betapa perih rasanya. Cinta yang tertolak oleh angin takdir hingga tak mampu berlabuh.

Abu Thalib menjawab,
“Kami adalah dua keluarga besar yang telah lama berbesan. Beginilah keluarga mulia membalas keluarga mulia.”

Apa daya. Takdir berada di atas segalanya—bahkan di atas cinta yang sering disebut mampu menaklukkan gunung dan samudra. Kali ini, cinta harus mengakui kelemahannya di hadapan takdir.

Rumah tangga Ummu Hani’ pun berjalan dengan baik. Ia dikaruniai empat orang anak: Ja’dah, Amr, Yusuf, dan Hani’.

Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat al-Kubra menuturkan detail kisah ini.

Waktu terus berjalan. Dua insan yang saling mencintai itu masing-masing menjalani takdirnya. Terpisah hingga nyaris tak lagi disebut dalam tutur kata. Tak ada perjumpaan. Tak ada sapa. Jarak sekitar 500 kilometer memisahkan mereka—jarak yang sangat jauh pada masa itu.

Namun cinta memang luar biasa. Ia mengajarkan kesabaran. Ia berdiam di hati, menunggu dan terus menunggu.
Bahkan ketika semua telah melupakannya, cinta tetap setia menunggu. Hingga takdir pun berganti, dan cinta kembali menemukan pintunya—pintu yang halal.

Puluhan tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun cinta itu tetap tinggal, tak beranjak.

Cinta yang selama ini diam dengan sejuta bahasa akhirnya berbicara. Ia memaksa lisan untuk mengakui bahwa cinta itu masih ada—tetap bertahan di sana meski telah puluhan tahun berlalu.

Usia tak lagi muda. Laki-laki mulia itu telah menua. Rambutnya memutih, tubuh dan wajahnya tak mampu menyembunyikan usia enam puluh tahunnya. Ummu Hani’ pun telah menua.

Cinta berjumpa kembali di usia senja. Ummu Hani’ masuk Islam pada tahun 8 Hijriah, sementara suaminya menolak memeluk Islam dan memilih pergi. Perbedaan akidah memisahkan mereka, sehingga pernikahan itu pun berakhir.

BACA JUGA : Jangan Lewatkan Shalat Dhuha, Ini Keutamaan Besar di Balik 2 Rakaat

Ummu Hani’ kembali dipertemukan dengan laki-laki mulia itu. Cinta menemukan muaranya dalam naungan hidayah. Meski usia tak lagi muda, meski cinta telah terpisah puluhan tahun.

“Siapa?” tanya laki-laki itu ketika Ummu Hani’ datang di waktu dhuha.

“Aku Ummu Hani’.”

“Selamat datang, wahai Ummu Hani’.”

“Aku ingin bertanya tentang kebenaran ucapan saudaraku yang hendak membunuh dua orang yang telah meminta perlindungan kepadaku,” tanya Ummu Hani’.

“Kami melindungi siapa pun yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’.”

Dalam pertemuan berikutnya, laki-laki mulia itu dengan tegas menyatakan,
“Aku melamarmu.”

Dahsyat.
Pertemuan dua cinta ini menjadi lebih dahsyat karena disaksikan oleh tanah suci Makkah.

Hati bergetar. Jiwa berguncang.

Ummu Hani’ menjawab,
“Demi Allah, aku telah mencintaimu sejak masa jahiliah. Maka bagaimana lagi setelah aku masuk Islam?”

Ia melanjutkan,
“Engkau lebih aku cintai daripada pendengaranku dan penglihatanku.”

Di hadapan mereka terdapat segelas susu. Laki-laki mulia itu meminum sebagian, lalu memberikannya kepada Ummu Hani’. Ia pun meminumnya, kemudian berkata,
“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

“Apakah puasa wajib?” tanya beliau.

“Bukan.”

“Kalau begitu tidak mengapa. Namun apa yang membuatmu melakukan ini?”

“Karena aku ingin meminum bekasmu.”

Ya Rabb… betapa dalam cinta itu.

Namun apakah dua cinta ini akhirnya bersatu?
Apakah kesabaran cinta kini menuai hasilnya?

Ajaibnya—tidak.

Ummu Hani’ berkata dengan berat hati,
“Aku telah memiliki banyak anak, dan aku tidak ingin mereka memberatkanmu.”

Ia melanjutkan,
“Hak suami itu sangat agung. Aku khawatir jika aku menunaikan hak suami, aku melalaikan hak anak-anakku. Dan jika aku menunaikan hak anak-anakku, aku melalaikan hak suamiku.”

Laki-laki mulia itu terdiam.
Sunyi lisannya, sunyi pula jiwanya.

Cinta mengajarkan kita banyak hal.
Ia tak perlu diundang untuk datang, dan tak bisa diusir untuk pergi. Ia sering masuk tanpa izin, dan sering pula enggan pergi meski telah diminta.

Karena cinta memilih tinggal di hati—dan hati bukan sepenuhnya milik kita.

Tahukah kita siapa laki-laki mulia itu?

Beliau adalah Rasulullah Muhammad ﷺ.

Ummu Hani’ berkata,
“Rasulullah melamarku, aku meminta maaf kepada beliau, dan beliau memahaminya.”

Kemudian turunlah firman Allah:

‘Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah engkau berikan maharnya… yang turut berhijrah bersamamu’
(QS. Al-Ahzab: 50)

“Aku tidak halal baginya karena aku bukan termasuk wanita yang berhijrah bersamanya. Aku termasuk orang-orang yang dibebaskan pada Fathu Makkah.”

Cinta yang suci tahu diri.
Ia tidak menuntut melebihi batasnya.

Rasulullah ﷺ pun memuji Ummu Hani’,
“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita Quraisy: paling lembut kepada anaknya saat kecil dan paling menjaga hak suaminya.”

Kisah cinta ini pun berakhir di dunia.
Namun barangkali cintanya tetap hidup hingga mereka bertemu kembali di akhirat.

Cinta yang tulus—tak mesti bersama.
Namun tetap saling mendoakan, saling menghormati, dan tetap mulia. (*/)

Penulis : Budi Ashari, Lc (parentingnawabiyah)