TASIKMALAYA – Bencana tanah longsor terjadi di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dan menimpa 23 prajurit Marinir TNI Angkatan Laut yang sedang menjalani latihan pratugas. Hingga Senin (26/1/2026), empat prajurit dilaporkan meninggal dunia, sementara proses pencarian terhadap korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
BACA JUGA : Longsor Pasir Langu Bandung Barat: 9 Tewas, 81 Orang Masih Hilang hingga Hari Ketiga Pencarian
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan bahwa para prajurit tersebut tengah melaksanakan latihan pratugas sebagai bagian dari persiapan penugasan pengamanan perbatasan Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG).
“Mereka sedang melaksanakan latihan pratugas sebelum diberangkatkan untuk melaksanakan pengamanan perbatasan RI–PNG. Latihan memang dilaksanakan di wilayah tersebut,” kata Muhammad Ali saat rapat bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Menurut KSAL, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan Cisarua selama hampir dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya longsor besar yang menimpa satu desa, termasuk area latihan prajurit Marinir.
“Terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor. Hingga saat ini, empat personel ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan lainnya masih dalam proses pencarian,” ujarnya.
Proses pencarian korban masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan akses menuju lokasi kejadian serta kondisi cuaca yang belum stabil. Hal ini menyebabkan alat berat belum dapat dioperasikan secara optimal.
“Alat berat belum bisa masuk karena akses jalan yang sempit dan cuaca yang belum memungkinkan. Pencarian dilakukan dengan memanfaatkan drone, peralatan thermal, serta anjing pelacak,” tambah Ali.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat longsor di wilayah Cisarua, Bandung Barat, secara keseluruhan mencapai 17 orang. Dari jumlah tersebut, 11 jenazah telah berhasil diidentifikasi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan tim SAR gabungan telah menyerahkan sebanyak 25 kantong jenazah kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri pada Minggu (25/1/2026).
“Dari total tersebut, 11 jenazah sudah teridentifikasi, sementara enam lainnya masih dalam proses identifikasi,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa proses identifikasi bergantung pada kondisi jenazah dan kelengkapan data ante mortem. Jika jenazah ditemukan dalam kondisi utuh dan data pendukung tersedia, proses dapat dilakukan lebih cepat.
Hingga Senin siang, operasi pencarian dan evakuasi korban longsor masih terus berlangsung dengan melibatkan unsur TNI, Polri, BNPB, Basarnas, serta relawan. Tim gabungan tetap bersiaga sambil menunggu kondisi cuaca dan akses menuju lokasi terdampak membaik. (LS)












