TASIKMALAYA – Upaya menanamkan nilai spiritual dan pembentukan karakter sejak usia dini terus dilakukan satuan pendidikan di Jawa Barat. Sejalan dengan Program Bageur dalam konsep Panca Waluya yang digagas Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM), SD Negeri 2 Sindangpalay menghadirkan inovasi edukatif bernuansa religius dengan melukis lafadz Asmaul Husna di tiang dan tembok sekolah.
BACA JUGA : Kabar Baik! Kuota Beasiswa LPDP 2026 Naik dari 4.000 Jadi 5.750 Kursi
Program ini tidak hanya memperindah lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi media pembelajaran visual yang sarat makna. Melalui pengenalan 99 nama indah Allah SWT, sekolah berupaya membentuk karakter siswa agar beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta mencerminkan nilai bageur atau berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SDN 2 Sindangpalay, Elis Mulyati, S.Pd., M.Pd, mengatakan bahwa inisiatif melukis Asmaul Husna berangkat dari keinginan sekolah untuk mendekatkan peserta didik kepada Allah SWT melalui cara sederhana namun bermakna.
“Inisiasi lukis lafadz Asmaul Husna ini bertujuan agar siswa lebih mengenal Allah SWT, memperkuat iman, dan memahami sifat-sifat-Nya yang mulia. Harapannya, nilai-nilai tersebut menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Elis saat ditemui, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, lingkungan sekolah merupakan ruang belajar yang sangat efektif. Ketika siswa setiap hari melihat, membaca, dan mengamati lafadz Asmaul Husna, secara tidak langsung mereka terbiasa mengingat nama-nama Allah serta memahami maknanya.
“Asmaul Husna adalah nama-nama baik Allah SWT. Dengan melukis lafadz ini, siswa dapat belajar memahami arti dari setiap nama tersebut,” tambahnya.
Elis menjelaskan, pengenalan Asmaul Husna tidak hanya berdimensi religius, tetapi juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak. Setiap nama Allah mencerminkan sifat-sifat mulia yang dapat dijadikan pedoman perilaku.
Sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih), Al-‘Adl (Maha Adil), dan As-Salam (Maha Pemberi Kedamaian) diharapkan mampu tercermin dalam sikap siswa saat berinteraksi, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
“Ketika anak mengenal Allah Maha Pengasih, mereka akan belajar saling menyayangi. Saat mengenal Allah Maha Adil, mereka belajar bersikap jujur dan adil,” tuturnya.
Lebih lanjut, Elis menyampaikan bahwa Asmaul Husna memiliki hikmah dan manfaat besar bagi siapa saja yang mengamalkannya. Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan berdoa dengan menyebut nama-nama Allah sesuai dengan hajat dan kebutuhan.
“Setiap Asmaul Husna memiliki arti dari sifat Allah. Dengan membaca, menghafal, dan memahami maknanya, keimanan anak akan meningkat,” jelasnya.
Ia memaparkan beberapa tujuan utama pengenalan Asmaul Husna di lingkungan sekolah, di antaranya memperdalam iman dan ketakwaan, mengenal kebesaran Allah SWT, serta mendekatkan diri kepada-Nya melalui doa.
Selain itu, manfaat yang diharapkan meliputi ketenangan batin, kesehatan mental dan spiritual, tumbuhnya rasa syukur, kesadaran akan kelemahan diri, serta menjauhkan anak dari perilaku negatif karena senantiasa diingatkan pada nilai akhirat.
Program melukis Asmaul Husna ini juga dibarengi dengan pembiasaan pengamalan dalam aktivitas harian siswa. Anak-anak diajak membaca, menghafal, dan memahami makna Asmaul Husna melalui kegiatan belajar di kelas maupun zikir bersama setelah salat.
“Anak-anak diarahkan menjadikan Asmaul Husna sebagai panduan dalam berdoa dan berperilaku sehari-hari,” tegas Elis.
Inisiatif SDN 2 Sindangpalay ini dinilai sejalan dengan Panca Waluya dan Program Bageur Jawa Barat, yang menekankan keseimbangan spiritual, moral, dan sosial dalam pembangunan karakter generasi muda.
Lingkungan sekolah yang religius dan edukatif diharapkan mampu menjadi benteng moral bagi anak-anak di tengah tantangan zaman dan derasnya arus informasi digital.
Elis berharap program ini dapat berkelanjutan dengan dukungan seluruh pihak, terutama orang tua siswa.
“Kami berharap dukungan dari tenaga pendidik, orang tua, dan semua pihak agar bersama-sama membentuk karakter anak melalui pengenalan nama dan sifat Allah,” pungkasnya.
Ia menegaskan, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat agar nilai keimanan dan akhlak mulia yang ditanamkan sejak dini dapat tumbuh kuat dan mengakar. (Rizky Zaenal Mutaqin)












